Atasi Problematika Ketersediaan Air di Ponpes dengan Sistem Re-Syar’i Limbah Air Wudhu Konvensional


 


  
          ‘Santri bukan hanya yang menetap dipesantren. Melainkan mereke yang berperilaku sebagaimana perilakunya santri, maka sejatinya merekapun adalah santri.’ 
                                                                Dr. KH. Musthofa Bisri

Sebuah pepatah yang sangat memotivasi hingga kelima kawan kita dari UGM ini ingin mengimplementasikan dan memberikan sesuatu nilai tambah untuk kemaslahatan para santri.
Air merupakan sesuatu yang sangat krusial dan sangat berkaitan erat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Air juga menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia, baik itu untuk minum, mandi, mencuci dan masih banyak lagi. Tubuh manusia sendiri terdiri dari sekitar 60% air, jadi memang sudah takdirnya bahwa air menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi manusia, dan tak dapat dielakkan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa adanya air. Bagi saudara kita yang beragama islam, air memiliki peranan yang penting dalam menunjang peribadatan yang mereka lakukan yaitu untuk bersuci khususnya dengan cara berwudlu. Wudlu merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang muslim sebelum melakukan ibadah seperti sholat dan membaca Alqur’an.

Terlebih lagi bagi kita yang hidup di Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya menganut agama Islam, sehingga kebutuhan air yang terpenuhi sangat dibutuhkan. Bagi sebagian orang yang hidup di pesantren, kebutuhan akan air wudlu bisa jadi lebih besar jika dibandingkan dengan umat muslim yang tidak menetap di pondok pesantren. Hal ini karena sebagai pesantren memiliki banyak rutinitas peribadatan yang jauh lebih intensif. Tak ayal jika kebutuhan akan air wudlu jauh lebih besar. Hal ini pula yang terjadi di Pondok Pesantren Pandan Aran. Pondok ini merupakan salah satu pondok pesantren pengembang ilmu Al-qur’an yang berada di DI. Yogyakarta.

Setiap harinya sekitar 80 santri menjalankan rutinitas peribadatan maupun kesehariannya di tempat ini, sehingga kebutuhan air bagi para santri untuk berwudhu cukup banyak. Namun sayangnya besarnya kebutuhan santri akan air kurang diimbangi dengan ketersediaan air yang ada. Sehingga muncul beberapa persoalan misalnya, kurangnya fasilitas tempat wudhu, debit air yang kecil atau bahkan tidak keluar sama sekali. Tentu hal ini menjadi peermasalahan tersendiri, dan jika dibiarkan saja sudah barang tentu akan mengganggu kegiatan atau aktivitas lainnya karena banyak waktu yang terbuang untuk menunggu ketersediaan air kembali.

Persoalan inilah yang kemudian mencoba untuk dipecahkan oleh kelima rekan kita dari Banyumas. Mereka adalah Aji Purnomo (Geografi Lingkungan 2014), Muhamad Lutfi Sa’bani (Geofisika 2015), Luthfi Afgani (Geofisika 2014), Eka Fitriani (Geofisika 2015), dan Tia Nur Afifah (Teknologi Pertanian 2015). Mereka memiliki ide untuk membuat sebuah alat filtrasi air wudlu yang  mampu mengubah air musta’mal agar bisa digunakan kembali. Sehingga diharapkan dapat mengatasi permasalah ketersediaan air yang sering terjadi di komplek IV Ponpes Sunan Pandanaran, terutama di musim kemarau. Sistem alat ini merupakan perpaduan pengetahuan mengenai filtrasi air secara konvensional dengan prinsip air suci mensucikan dalam pembahasan fiqh thoharoh. Sebelumnya kawan kita ini memang mengadopsi hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh mahasiswa dari universitas lain. Tetapi mereka membuat dan memodivikasi ide baru dengan melakukan inovasi dari alat filtrasi ini yaitu dengan penambahan unsur zeolit. Secara alami, zeolit merupakan batuan yang memiliki kemampuan sebagai karbon aktif yang mampu menyerap kotoran dan berbagai zat lain dalam air limbah wudlu, sehingga dapat membantu menjernihkan air dan juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan kadar oksigen di dalam air. Selain zeolit, material lain yang digunakan adalah kerikil, arang dan pasir dengan komposisi dan susunan yang telah ditentukan sebelumnya agar hasil yang diperoleh maksimal.

Selain itu alat filtrasi dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat dipastikan bahwa air yang keluar telah mencapai syarat dua kullah. Sehingga para santri yang hendak menggunakan air hasil filtrasi untuk berwudhlu tidak perlu khawatir mengenai syarat air yang suci mensucikan. Namun selain untuk berwudlu, air hasil fitrasi ini juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari yang non konsumtif.

Setelah pembangunan infrastruktur alat filtrasi tersebut, kelima orang ini juga akan mengadakan sosialisasi yang ditujukan bagi keluarga besar pondok pesantren Pandan Aran khusunya bagi para santri mengenai program yang dijalankan meliputi pemberian materi mengenai wawasan air bersih, penghematan air, manfaat daur ulang, serta sitem perawatan alat filtrasi. Kemudian untuk menciptakan kberlanjutan program maka dibentuklah tim atau kader re-syar’i dimana semua anggotanya adalah para santri di Ponpes Sunan Pandan Aran sendiri yang sebelumnnya telah diberi bekal yang lebih kaitannya dengan perawatan alat filtrasi tersebut. Harapannya kegiatan ini akan mempu mengatasi permasalahan akan ketersediaan dan penghematan air di Ponpes Sunan Pandan Aran kompleks IV pada khususnya, namun tidak menutup kemungkinan bahwa program ini diterapkan di beberapa Ponpes lainnya karena komponen alat filtrasi yang cukup sederhana namun efektif untuk menyaring air.(Eka Fitriani)


Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII