Persatuan dan Kesatuan Islam


Perbedaan sering kali menjadi sebuah pemisah dalam kehidupan bersosialisasi. Bahkan menjadikan sifat individualis serta apatis. Rasa ingin menang sendiri serta tidak mau menerima pandangan orang lain. Merasa paling benar dengan pemikirannya, padahal belum tentu kebenarannya. Semua itu tercipta karena besarnya egoisme yang tertumbuh dalam mindset seseorang bahkan menyalahkan pemikiran orang lain. Pemikiran yang demikian sesungguhnya pemikiran sempit, yang akan menjadikan seseorang memiliki fanatisme buta dan akibatnya bertindak sewenang-wenang dan semau-maunya. Ini seperti fanatisme yang ditunjukkan oleh presiden Amerika kala itu, John F. Kennedy, ketika mengatakan; “Right or wrong is my country[1].”
Ungkapan ini jelas sangat keliru dan bertentangan dengan keadilan dan prinsip prikemanusiaan. Padahal perbedaan akan menjadi sebuah warna dalam kehidupan. Perbedaan yang berlandaskan sebuah persatuan dan kesatuan akan mampu mengkokohkan tiang-tiang kehidupan. Khususnya tiang-tiang dalam agama dan budaya. Islam penuh dengan perbedaan, mulai dari ubudiayh, amaliyah, dan muamalah. Namun perbedaan itu menjadikan mudah terhadap pemeluknya. Berdasarkan prinsip Islam sesuai ajaran Rasulullah SAW, Islam Rahmatalli ‘alamin. Islam yang penuh prikemanusiaan, adil, dan saling menghargai perbedaan yang sepatutnya umatnya mampu menjadi barisan pengikut Rasulullah. Seperti contoh pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, kebijakan Sahabat Umar bin Khattab yang menyatakan bahwa tanah milik petani Qibthi[2] bukan ghanimah, Sahabat Umar mengembalikan hak kepemilikan kepada kaum Qibthi, sekalipun pemilik tanahnya beragama Kristen (Madjid, 1992).
Hal senada telah disampaikan C Holland Taylor, Direktur Bayt Rahmah, California, Amerika Serikat, Kelompok Islam moderat terus memperkenalkan keislaman yang ramah seperti Indonesia. Masyarakat di Amerika dan Eropa, yang tidak mengenal baik tentang Islam, hanya melihat aksi yang dilakukan kelompok teroris yang selalu mengatasnamakan Islam.[3] Abad ke-21 perbedaan yang berujung konflik di negara-negara Timur Tengah kian menjadi santapan hangat. Persoalan yang kian tidak kunjung selesai, mulai dari ekonomi, politik, sosial dan budaya. Bahkan pertumpahan darah yang terjadi antara Timur tengah dengan mayoritas negara-negara muslim. Bukan hanya negara Timur Tengah, Indonesia yang belakangan tahun ini terjadi konflik di beberapa daerah, Papua misalnya. Konflik antar suku, budaya, rasa, hingga agama. Padahal hal ini tidak sejalur dengan konsep Pancasila serta toleransi yang diajarkan dalam agama Islam.
1.  Perbedaan adalah Pemersatu
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ  (al-Hujrat : 13)عَلِيمٌ خَبِيرٌ 
Artinya :“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S al-Hujrat : 13)
         14 abad yang lalu, al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikan Jibril a.s. Namun sudah menjelaskan tentang perbedaan yang bertujuan pemersatuan, inilah salah satu hal yang menjadikan Keistimewaan al-Qur’an. Jika kita merujuk pada kalimat ayat tersebut, dimulai dengan panggilan “Annasu” (manusia) yang menunjukan isim nakirah. Mempunyai perngertian yang sangat universal, tidak merujuk pada pengertian tertentu atau terkhususkan. Ayat diatas sudah sangat jelas mempunyai tujuan untuk mempersatukan sebuah perbedaan, tidak mengenal entah kulit hitam, putih, ras, suku, budaya, bahkan Agama Sekalipun. Selama konsep ta’aruf masih dalam ruang lingkup koridor syatiat Islam, hendaknya perbedaan antar umat mampu menjadikan persatuan.
Masyarakat Muslim dan Kristiani di Sumatera utara misalnya, mereka hidup membaur, bersaudara, dan sangat akrab. Mereka saling mengunjungi dalam hari-hari besar keagamaan, yang Muslim makan di rumah saudara mereka yang Kristiani, dan masyarakat Kristiani bergotong royong memberi bantuan membangun rumah ibadah masyarakat Muslim dan sebaliknya (Irwansyah, 2014).
           Perbedaan yang terjadi di masyarakat Indonesia dengan berbagai aspek. Agama, suku, ras, dan budaya. Bahkan Isalmpun sudah mempunyai banyak golongan. Nampaknya harus dibungkus dengan sebuah kunci “Nasionalisme”. Dengan nasionalisme, konsep perbedaan untuk saling mengenal akan tercipta dengan harmonis. Sebagaimana lazimnya barisan pengikut Rasulullah SAW mampu saling menghargai antara umat beragama, walaupun penuh perbedaan. Hal ini bahkan sudah tertuang dalam piagam madinah yang bertujuan untuk membangun negara menjadi lebih baik.
Nasionalisme yang seharusnya diusung adalah nasionalisme dalam arti yang lebih luas, yang mendasarkan pada kebenaran tauhid dan akidah islamiyah. Artinya, rasa kebangsaan kita seharusnya didasarkan pada kecintaan kita kepada Allah. Dan kecintaan kita kepada siapapun yang menyatakan diri dengan ‘Laa ilaaha illa Allah, Muhammadun Rasuulullaah’. Hal ini bermakna, siapapun yang menyatakannya maka ia adalah sahabat dan saudara kita, walaupun ia berasal dari suku Batak, Bugis, Melayu, atau yang lainnya. Atau dia berasal dari kawasan yang disebut dengan Afrika, Eropa, atau Amerika.[4] 
2.  Menyiapkan perbedaan untuk persatuan antar umat beragama
Negara kebangsaan Indonesia terbentuk dengan ciri yang sangat unik dan spesifik. Berbeda dengan Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Yunani, Spanyol, Belanda dan banyak negara lain karena kesamaan bahasa. Berbeda pula dengan Australia, India, Srilangka, Singapura, yang menjadi suatu negara bangsa karena kesamaan daratan (Widisuseno, 2010). Indonesia adalah salah satu negara dengan menghargai perbedaan yang sangat kuat. Jumlah pulau di Indonesia menurut data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004 adalah sebanyak 17.504 buah[5]. Tetapi mampu rukun dan damai dengan berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu. Lalu apa guna itu semua? Yaitu melainkan untuk saling bergaul, berta’aruf serta saling bekerja sama. Mari kita tengok sebentar ke negara timur tengah sana. Suriah, Yaman, Iran, serta negara Timur tengah lainnya. Darah berceceran diamana-mana, anak tak berdosa terbunuh, tangisan terdengar seakan menusuk telinga. Mengapa itu semua terjadi? Padahal mereka semua satu bahasa, satu pulau. Salah satu faktornya, karena kurangnya rasa saling menghargai, menghormati dan memberi kasih seksama. Seharusnya kita sebagai umat Islam yang mempunyai konsep ta’aruf, konsep pergaulan seyogyanya harus lebih mampu saling menghargai antar seksama dan Ukhuwah Islamiahnya.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَ رِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdirrahman bin Syahrin radhiyallahu ‘anhu, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (H.R Muslim)[6]
Dalam kitab Syarh an Nawawiy 'ala Muslim juz 16 hal. 121 memberi pengertian bahwa dalam memberikan balasan amal Allah tidak memandang dari segi fisik, tetapi Allah lebih mempertimbangkan faktor ketaqwaan dan amal. Hadist dengan predikat shahih ini memberikan penjelasan bahwa Allah semata-mata tidak melihat apa yang tampak pada mata telanjang melainkan apa yang terdapat pada hati dengan rasa taqwa.[7]
 Kesimpulan
Manusia pada fitrahnya diciptakan penuh dengan perbedaan. Agama, suku, ras, dan budaya. Perbedaan tersebut bukanlah menjadi hal yang phobia, melainkan untuk menjadikan suatu persatuan antar umat beragama. Indonesia menjadi negara dengan muslim terbesar didunia, walaupun terdapat puluhan bahkan perbedaan didalamnya. Akan tetapi, seyogyanya mampu menjadikan contoh untuk persatuan dalam perbedaan yang ada. Dengan konsep “Ta’aruf” dalam Islam perbedaan akan menjadi sebuah pengikat untuk menjadikan persatuan. Timur tengah, dengan negara satu, satu bahasa, budaya bahkan suku. Lazimnya harus mampu menciptakan perdamaian serta persatuan Islam, lebih-lebih dalam perbedaan Agama.
Perbedaan bukan tentang siapa dan mengapa, melainkan substansinya adalah bersatu untuk kepentingan bersama. Seperti dalam Hadist tersebut, Allah melihat dalam diri manusia, bukan semata-mata fisik, pangkat dan hal lainnya. Untuk membangun kesatuan antar perbedaan diperlukannya rasa bekerja sama dan konsistensi untuk saling toleransi selama masih dalam koridor Islam.

Daftar Pustaka
Irwansyah. (2014). Perbedaan Sikap keberagamaan antara masyarakat Islam dan Kristiani di Sumatera utara dan Frankfrut am Main Jerman. ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman, 37.
Madjid, N. (1992). Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina.
Widisuseno, I. (2010). Nasionalisme dan tantangannya di Indonesia (Menyoal Nasionalisme di Indonesia). Jurnal Istiwa, 113.




[1] Khutbah Jum’at yang disampaikan Dr.KH Hilmy Muhammad M.A pada Jum’at 17 Jumadil Ula 1437 (26/02/2016) di Masjid Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.
[2] Tanah petani Qibthi Kristen disita oleh para jendral tentara Romawi dijadikan lapang main Polo. Permainan semacam golf. Bedanya pemainnya dengan mengendarai kuda dalam memukul bola untuk dimasukkan ke dalam lubangnya.
[3] Kompas, 10 Mei 2016, hlm.15.
[4] Khutbah Jum’at yang disampaikan Dr.KH Hilmy Muhammad M.A pada Jum’at 17 Jumadil Ula 1437 (26/02/2016) di Masjid Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pulau_di_Indonesia

[6] Kitab Shahih Muslim Juz 4 hal 1987 no 2564
[7] kitab Syarh an Nawawiy 'ala Muslim juz 16 hal. 121


Najib/Widya


Share on Google Plus

About Widia Turrahmi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII