Kajian Nahdliyyat Kitab 'Aqidatul Awwam (01)

Kajian Nahdliyyat Kitab 'Aqidatul Awwam (01)
Kajian keputrian Nahdliyat KMNU UII (4/6) didepan book store UII
Awwalu waajibin 'alal insaani ma'rifatullahi bistiqooni 
Yang pertama kali wajib kepada manusia adalah ma'rifat kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya (Zubad, Ibnu Ruslan)

Kitab 'Aqidatul Awwam sesuai dengan namanya berarti 'aqidah untuk orang orang awwam. Kitab ini merupakan salah satu kitab yang diperuntukkan bagi umat Islam dalam mengenal ke-tauhid-an, khususnya tingkat permulaan (dasar). Isi dari kitab ini tentang 'Aqoidul Iman 50 yaitu sifat-sifat wajib beserta sifat mustahil bagi Allah, sifat wajib beserta mustahil bagi Rasul, dan juga membahas tentang nama-nama Nabi dan Rasul, nama-nama Malaikat dan tugas-tugasnya. Selain itu, didalamnya juga dibahas tentang pentingnya mengenal nama-nama keluarga dan keturunan Nabi Muhammad SAW dan perjalanan hidup beliau dalam membawa ajaran Islam. Terlebih bagi mereka yang baru pertama mengenal Islam. 'Aqidatul Awwam ditulis dalam bentuk syair (nazham). Didalamnya terdapat sekitar 57 bait syair yang berisi pengetahuan yang harus diketahui setiap pribadi muslim.

Adapun pengarangnya adalah Sayyid Ahmad Al Marzuqi Al-Maliki (1258 H). Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Sayyid Ramadhan al-Marzuqiy al-Hasaniy wal Husainiy al-Malikiy, al-Mishriy al-Makkiy, dilahirkan sekitar tahun 1205 H di Mesir. Sepanjang waktu beliau bertugas mengajar di Masjid Mekkah. Karena kepandaian dan kecerdasannya, beliau kemudian diangkat menjadi Mufti Mazhab Maliki di Mekkah menggantikan Sayyid Muhammad yang wafat sekitar tahun 1261 H. Syaikh Ahmad al-Marzuqiy juga terkenal sebagai seorang Pujangga dan dijuluki dengan Abu Alfauzi. Dalam kitab Nurudz-dzalam, Imam an-Nawawiy ats-Tsaniy al-Jawiy menuturkan bahwa alasan Syaikh al-Marzuqiy menulis kitab tersebut adalah karena beliau mimpi berjumpa dengan Rasulullah dan para sahabatnya.

Begitu pentingnya kitab ini, Syekh Nawawi Asy-Syafi'i (Al Bantani Al Jaawii), kemudian memberikan syarah (keterangan dan penjelasan) tentang 'Aqidatul Awwam ini dalam kitabnya Nuuruzh-zholam (penerang atau cahaya dalam kegelapan) mengenai kandungan dari nazhaman tersebut. Syarah Nuuruzh-zholam ini ditulis Syekh Nawawi sekitar tahun 1277 H. Beliau Syaikh Nawawi yang digelari Sayyid 'Ulama Hijaz ini berusaha mengasah jiwa spiritual kaum muslimin dengan memaparkan siapa yang wajib kita imani dan membangun nilai-nilai keimanan kaum muslimin yang memulai pudar.

أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ * وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ اْلإِحْـسَانِ
Saya memulai dengan nama Alloh, Dzat yang maha pengasih, dan Maha Penyayang yang senatiasa memberikan kenikmatan tiada putusnya
Pengarang mandhumah “Aqidatul Awam” ini memulai dengan Basmalah seraya meminta pertolongan pada Alloh azza wajalla yang luas rahmatnya pada segala sesuatu, pemberian dan kenikmatanNya yang berlangsung tanpa ada putus dan bergeser.

-Pertama : Karena mengikuti aturan Al Qur’an yang Aziz secara urutannya bukan turunnya Al Qur’an.

-Kedua : Karena mengamalkan hadits Rasulullah SAW : “Setiap perkara yang mempunyai kepentingan yang tidak diawali di dalamnya dengan Basmalah maka ia terputus” ( HR. Khotib dari Abu Hurairah RA, dengan sanad marfu’)

-Ketiga : Karena mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, karena Beliau ketika membuka kitab dan surat-suratnya diawali dengan basmalah. Sebagaimana keterangan yang ada dalam tulisan (surat) Rosululloh saw. kepada Heraklius dan yang lainnya
فَالْحَـمْـدُ ِللهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ * اَلآخِـرِ الْبَـاقـِيْ بِلاَ تَحَـوُّلِ
Maka segala puji miliknya Allah; Yang Maha Dahulu, Maha Awal, Maha Akhir, Kekal tanpa ada perubahan
Dan pengarang juga memulai mengarang mandzumah dengan menambahkan hamdalah, maksudnya adalah dengan memuji dengan lisan pada Alloh yang Qodim, Al Awwal, Al Akhir, Al Baqi disertai penghormatan padaNya dan meyakini bahwa setiap pujian itu tetap padaNya.

Alasan pertama : karena mengamalkan sabda Rosululloh SAW, “Setiap perkara yang mempunyai kepentingan yang tidak diawali didalamnya dengan hamdalah maka ia terputus”.

Alasan kedua : karena melaksanakan hak sesuatu yang wajib disyukuri nikmat-nikmatnya termasuk dikarangnya mandzumah ini.
ثُمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَـرْمَدَا * عَلَى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا
وَآلِهِ وَصَـحْبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ * سَـبِيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ
Kemudian, semoga rahmat dan keselamatan Allah senantiasa terlimpah
atas Nabi sebaik-baik orang yang mengEsakan Allah
Kemudian setelah itu pengarang bersholawat dan salam pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW manusia paling utama mengEsakan Alloh, dan juga pada keluarganya, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dijalan agama yang benar dengan kebajikan hingga hari kiamat, hal itu dilakukan karena mengamalkan hadist Nabi SAW. Sabda Beliau “ setiap perkara yang mempunyai kepentingan yang tidak diawali dengan hamdalah dan bersholawat kepadaku maka dia terputus, terpotong dan terhapus dari setiap barokah”.

Faedah : Imam Syafi’i berpendapat, “saya lebih menyukai seseorang yang mendahulukan didepan khutbahnya dan setiap hal yang diinginkannya, dengan membaca Hamdalah pada Alloh Ta’ala, dan bersholawat pada Rosululloh saw.

HR. Abdul Qodir Ar Rahawi dalam kitab Arbain, Syaikh Al Haitsami berpendapat sanad hadist ini tidak kuat, tetapi karena dalam bingkai keutamaan amal boleh saja diamalkan dengan kedhoifannya dengan persyaratan-persyaratannya.

“Bacalah nadham Tauhid yang barangsiapa yang memeliharanya akan masuk surga dan tercapai tujuan (maksud) dari segala kebaikan yang selaras dengan Qur’an dan Sunnah”

Kontributor : Fina Minkhatul Maula
Editor : Widiaturrahmi
Share on Google Plus

About Widia Turrahmi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII