Kebangkitan Nasional, Kebangkitan Tunas-Tunas Bangsa

Kebangkitan Nasional, Kebangkitan Tunas-Tunas BangsaOleh : Widiaturrahmi
“Sesungguhnya urusan bangsa dan negara adalah di tangan para pemuda dan di telapak kaki merekalah hidupnya suatu bangsa”

(Musthofa Al Ghulayani)
        Terlalu penting untuk membiarkan pemuda begitu saja sebab pemuda merupakan barometer masa depan bangsa. Dalam kaca mata sejarah peranan pemuda sangatlah berpengaruh, sangat disayangkan jika rumitnya persoalan arus globalisasi meminimkan peran pemuda untuk mengabdi pada negeri dan berkhidmah pada ummat. Kekaburan arah gerakan pemuda yang terlihat saat ini telah tercerai berai oleh sekat-sekat kepentingan politik yang mengakibatkan mandulnya manfaat kongkrit para pemuda ketika terjun di masyarakat serta rasa keakuan diri dari para pemuda berdampak negatif saat masyarakat menilainya.
        Sejarawan Taufik Abdullah (1995) memandang pemuda adalah konsep-konsep yang sering menilai pada nilai-nilai herois-nasionalisme. Hal ini disebabkan bukanlah semata-mata istilah ilmiah, lebih condong ke pengertian ideologis dan kultural. “Pemuda harapan bangsa”, “Pemuda milik masa depan bangsa”, betapa sangat mensyaratkan nilai yang melekat pada “pemuda” untuk berkiprah dalam urusan bangsa.
Pernahkah kita mendengar slogan, “ pemuda saat ini, pemimpin masa depan”. Pernyataan itu mendorong kita untuk melihat eksistensi pemuda di masa lalu, masa kini dan masa depan.  Mari kita tinjau sejarah ke belakang, 20 Mei 1908 berdiri organisasi Boedi Oetomo yang diprakarsai Dr. Wahidin Sudiro Husodo ditandai dengan bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang dilatar belakangi oleh Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Pada waktu itu juga para pemuda semangat mendirikan beberapa sekolah untuk menjaga dan melestarikan budaya Jawa. Indonesia tidak boleh terbelakang..!! Perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini didukung penuh oleh kalangan tokoh-tokoh pesantren yang notabene sejak lama gigih melawan kolonialisme. Berbagai organisasi baru dibentuk, seperti Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air) tahun 1916.
Setelah itu, organisasi serupa terus bermunculan, mulai dari Tashwirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri yang artinya kebangkitan pemikiran tahun 1918. Organisasi ini menjadi wahana pendidikan sosial, politik, dan keagamaan kaum santri. Tak lama kemudian, muncul Nahdlatut Tujjar (pergerakan atau kebangkitan para saudagar/pengusaha). Organisasi ini berfungsi sebagai basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Alhasil, dengan adanya organisasi tersebut, Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi, juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Organisasi keagamaan inilah yang akhirnya melahirkan organisasi ulama yang bernama Nahdlatul Ulama (NU). Satu hal lain yang turut mendasari berdirinya NU adalah upaya dari kalangan pesantren untuk menjaga dan memelihara peninggalan-peninggalan sejarah Islam ataupun pra-Islam.
28 Oktober 1928, dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Sebelumnya para pemuda berkumpul untuk mengadakan Kongres Pemuda I tahun 1926 dan Kongres Pemuda II tahun 1928 dipimpin oleh Soegondo Joyopuspito dari PPI (Persatuan Pemuda Indonesia) yang melahirkan keputusan penting yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Dan sampailah pada perwujudan cita-cita bangsa 17 Agustus 1945 diproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Tahun 2016, sudah 108 tahun momen Kebangkitan Nasional, sekaligus 88 tahun Sumpah Pemuda. Secara resultantif, tahun 2016 seharusnya menjadi momen penting bagi pemuda untuk memprakarsai sebuah kebangkitan baru. Jika momen 1908 menyemaikan cita-cita kemerdekaan, 1928 mempertegas bingkai cita-cita itu, 1945 memancang tonggak perwujudan cita-cita itu, maka pertanyaannya, momen 2016 akan menyemai apa, mempertegas apa, dan mewujudkan apa? Sumpah Pemuda 1928 ditandai oleh semangat untuk secara sadar dan cerdas mencita-citakan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia.
        Kebangkitan Nasional 1908, dicetuskan di tengah cengkeraman penjajahan. Tantangan dan peluang Kebangkitan Nasional 2016, hampir sama sekaligus berbeda. Sama dalam cengkeraman penjajahan, tetapi berbeda motif, modus dan gayanya. Bukan lagi mengokupasi wilayah secara fisik, tetapi menjajah melalui jejaring ekonomi global, sketsa politik, organisasi dan paham intoleran, gurita informasi, dan destruksi moral generasi. Pelakunya bukan lagi Portugis atau Belanda, tetapi penjajah global beranggotakan lintas negara dan lintas benua yang tak terlihat secara kasat mata. Untuk Kebangkitan Nasional 2016, pemuda harus tampil sebagai pembebas yang tercerahkan dalam berbagai bidang. Tampil meng-inspiring dan meng-empowering bangsa ini untuk meretas segala kemungkinan dan ketidakmungkinan yang disuguhkan dalam cawan zaman globalisasi yang terus menggelegak dan berubah cepat agar tercipta negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur.

Pantas kalau Fathi Yakan dalam bukunya As-Sabab wat Taghyir mengatakan : “ dalam setiap gerakan dan perubahan besar di dunia, pasti ada peran pemuda didalamnya “. Salam Kebangkitan Nasional, Salam Kaum Muda NU..!!
Share on Google Plus

About Widia Turrahmi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII