Gencar Isu Pemalsuan Kitab Mahasiswa Diminta Pertajam Kemampuan Bahasa Arab

Gencar Isu Pemalsuan Kitab Mahasiswa Diminta Pertajam Kemampuan Bahasa Arab
Kaliurang, KMNU UII Online- Salah satu sumber pengetahuan ummat Islam saat ini adalah rujukan kitab-kitab para ‘ulama terdahulu sebagai pengembangan kajian keilmuan yang masih mujmal dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Adanya isu tahrif (pemalsuan) kitab yang berkembang beberapa waktu ini menjadi sebuah fenomena menarik. Beberapa kitab telah dihapus, diubah atau dihilangkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini mengindikasikan bahwa akan ada pihak pro kontra yang tertarik untuk meresponnya.

Salah satu respon datang dari lembaga El-Medicca Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia. Lembaga ini mengadakan seminar nasional untuk menjawab isu tersebut dengan tema “Apakah Benar Ada Isu Pemalsuan Kitab/Tahrif?” di Ruang Auditorium Fakultas Kedokteran (FK) UII, Ahad 23 Rajab 1437 H/01 Mei 2016. Kegiatan ini dihadiri oleh para akademisi, aktivis, dan berbagai elemen lainnya. Turut hadir juga Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama (KMNU UII) yang ikut berpartisipasi aktif sebagai peserta dalam seminar nasional tersebut. Diharapkan dari acara ini agar para akademisi, aktivis maupun praktisi lebih berhati-hati dalam mengambil sumber hukum dalam kajian keilmuan. Dan juga mahasiswa diharapkan bisa meningkatkan kemampuan di bidang Bahasa Arab agar bisa tabayyun terhadap kajian keilmuan yang bersumber dari Al-Qur’an, Al-Hadits, kitab-kitab maupun sumber hukum lainnya.

Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc dalam sambutannya mengatakan bahwa kajian agama adalah kebutuhan semua fakultas di UII. Sebab agama sebaiknya diintegrasikan dalam setiap kajian keilmuan. Dalam kesempatan tersebut, Harsoyo juga mengingatkan bahwa agama akan rusak bila ‘ulamanya menyimpang.

Tengku Zulkarnain, Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan materinya melalui video conference dari Kalimantan Timur. Baginya, nilai otentik dan orisinalitas harus dijaga dengan baik oleh ummat Islam sebab pemalsuan kitab merupakan pemerkosaan adab ilmiah.

Diantara narasumber yang hadir adalah KH Thobary Syadzili Al Bantani (Pengasuh Ponpes Al Husna Tangerang sekaligus Wakil Lembaga Da’wah Nahdlatul ‘Ulama). Dalam seminar tersebut, KH Thobary mengupas tentang tahrif (pemalsuan) dan pembuktian terhadap beberapa kitab klasik Aswaja dengan pembandingnya dari beberapa penerbit diantaranya Syarh Riyadush-sholihin, Tafsir Ash-Showiy, Al Ghunyah karangan Syeikh ‘Abdul Qadir Al Jaelani, dan beberapa kitab lain. KH Thobary mengingatkan kepada peserta bahwa belajar itu harus jelas sumber dan sanad keilmuannya.


Narasumber lain, Drs. Asmuni Mth, MA (Dosen Tetap Program Studi Hukum Islam UII) menyampaikan bahwa masih terjadi kebingungan siapa pelaku dari tahrif ini. Di dalam Al Qur’an banyak menggunakan istilah kafir dan berbagai derivasinya. Sementara Al-Qur’an dan Al-Hadits merupakan sumber utama yang kita namakan sebagai nash-nash pembentuk. Dari sana dikaji dengan pendekatan subyektif masing-masing yang melahirkan teks pembentuk. Disini barulah muncul kekhawatiran karena terjadi perpecahan umat Islam yang saling mengkafirkan. Asmuni mempercayai asal dari kitab kuning sendiri hanya saja setelah ada isu pemalsuan kitab menjadi lain ceritanya. “Tidak semua yang kuning itu kredibel”, tuturnya. Dalam konteks akademis isu pemalsuan kitab tersebut perlu kajian komprehensif.

Narasumber terakhir, Dr Syaefuddin AA. M.Sc, CHRM (Wakil Dekan FK UII) menyatakan bahwa kita harus mendasari isu tersebut dengan memahami satu sama lain dimulai dengan aspek bioetik menyikapi penafsiran publikasi dan penerbitan kitab dan isu tahrif kitab kedokteran Nabi (At-Tibyaan). Berbagai macam perbedaan dalam penafsiran publikasi antar kelompok tidak seharusnya dipertentangkan melainkan dicarikan jalan terbaik. Sebelumnya, pernah ada peristiwa seorang ilmuwan yang membuat riset bahwa vaksin itu berbahaya dan bisa menimbulkan autis sehingga lahirlah gerakan anti vaksinasi saat itu. Akan tetapi, riset itu terbantahkan oleh bukti yang salah. Konsekuensinya ilmuwan tersebut dicabut gelar akademiknya dan diberi hukuman yang lain. “Kalau untuk urusan dunia saja ditindak maka untuk urusan akhirat (pemalsuan kitab) lebih pantas untuk ditindak”, paparnya saat itu.

Penulis : Widiaturrahmi/Zulfa
Editor : Widiaturrahmi
Share on Google Plus

About Widia Turrahmi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII