Kesunnahan Puasa Rajab - Bagian 3 (Akhir)

Kesunnahan Puasa Rajab - Bagian 3 (Akhir)
Oleh : Muhammad Azka
8. Al-Imam ar-Romli (wafat 1004 H). Beliau adalah ulama yang dijuluki “Imam Syafi’i Shoghir” (Imam Syafi’i Kecil), saking faqihnya beliau dalam madzhab Syafi’i. Beliau juga termasuk ulama paling mu’tamad setelah Imam an-Nawawi. Pendapat beliau dengan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami adalah imbang, artinya boleh bagi kita untuk memilih salah satu dari keduanya, jika terdapat perbedaan pendapat. Beliau berkata:


“Ketahuilah bahwasannya seutama-utamanya bulan untuk puasa setelah Romadlon adalah Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia). Seutama-utamanya Asyhurul Hurum adalah Muharrom, lalu Rajab, sebagai bentuk penghindaran dari khilafiyyah tentang keutamaan Rajab di atas bulan-bulan mulia lainnya. Yang jelas, kemuliaannya sama. Setelah itu bulan Sya’ban karena ada riwayat: ”Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah puasa Sya’ban sebulan penuh”, dan dalam riwayat lain: “Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpuasa Sya’ban tidak penuh.” (Nihayatul Muhtaj lil Imam ar-Romli, juz 3 halaman 211-212, cetakan Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, tahun 1424 H/2003 M)

9. Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Khorosyi al-Maliki (wafat 1101 H). Beliau adalah termasuk ulama yang mu’tamad dalam madzhab Maliki. Beliau berkata perihal masalah ini:


“Muharrom, Rajab, Sya’ban. Yakni Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menyunnahkan puasa di bulan Muharrom dan ia adalah yang pertama dari Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia), kemudian menyunnahkan puasa Rajab dan ia adalah bulan yang menyendiri dari bulan-bulan mulia lainnya.

[Maksudnya adalah Rajab merupakan bulan yang tidak berurutan dari bulan-bulan mulia lainnya karena 3 bulan lainnya berurutan]. Setelah itu adalah Sya’ban karena terdapat hadits dari Aisyah: “Tidaklah aku melihat Rosul shollallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa [di luar Romadlon] yang lebih banyak daripada di bulan Sya’ban” dan hadits dari Aisyah lainnya: “Tidaklah aku melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada di bulan Sya’ban, sedikit sekali hari yang beliau gunakan untuk tidak berpuasa.” Dalam riwayat Muslim ada tambahan “Bahkan beliau berpuasa sebulan penuh.” Begitujuga hadits dari Ummu Salamah rodliyallahu ‘anha: “Tidaklah aku melihat Rosul berpuasa 2 bulan berturut-turut, kecuali Sya’ban dan Romadlon.” (Syarah al-Khorosyi ‘ala Mukhtashor Kholil, juz 2 halaman 241-242, tidak diketahui cetakan mana)


10. Komisi fatwa para ulama Hanafiyyah di India kurun 13 Hijriyyah yang diketuai oleh al-‘Allamah Maulana asy-Syaikh Nizhom al-Hindi menyimpulkan bahwa puasa Rajab adalah sunnah:


“Macam-macam puasa sunnah itu banyak. Yang pertama adalah puasa bulan Muharrom. Kedua, Rajab. Ketiga, Sya’ban. Setelah itu adalah ‘Asyuro, yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharrom sebagaimana menurut kebanyakan ulama dan shohabat rodliyallahu ta’ala ‘anhum, begitupula dalam madzhab Zhohiriyyah.

Yang disunnahkan ketika puasa Asyuro adalah beserta tanggal sembilannya juga, sebagaimana diterangkan dalam Fathul Qodir. Dan dimakruhkan puasa Asyuronya saja tanpa disertai puasa ditanggal lainnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Muhith karya as-Sarkhosi.” (Al-Fatawa al-Hindiyyah, cetakan Daru Shodir, Beirut, Lebanon, tanpa tahun)

Baca juga artikel Kesunnahan Puasa Rajab - Bagian 2

Source : Kalam-Ulama(dot)com
Editor : Redaktur KMNU UII
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII