Kesunnahan Puasa Rajab - Bagian 2

Kesunnahan Puasa Rajab - Bagian 2
Oleh: Muhammad Azka
4. Al-Imam al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H). Beliau adalah penutup Mujaddid (pembaharu) di seluruh dunia. Luar biasa, karyanya mencapai 720 kitab dan mencakup hampir seluruh bidang ilmu. Keahlian beliau yang paling menonjol adalah di bidang hadits, ushul fiqih, ulumul Qur’an, dan sejarah. Beliau bersama al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqolani (wafat 852 H) adalah yang terbaik di bidang hadits. Beliau ditanya tentang hadits-hadits seputar Rajab:



“Masalah: Tentang hadits Anas rodliyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah sungai yang dinamakan Rajab. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa berpuasa sehari dalam bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut.” Juga hadits Anas lainnya, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan mulia pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka dituliskan baginya pahala ibadah selama 700 tahun.” Juga hadits Ibnu ‘Abbas rodliyallahu ‘anhuma, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa sehari dalam bulan Rajab, maka pahalanya seperti puasa selama satu bulan, barangsiapa yang berpuasa tujuh hari di bulan Rajab, maka akan ditutup baginya tujuh pintu neraka Jahim, barangsiapa yang berpuasa delapan hari, maka akan dibukakan baginya 8 pintu surga, dan barangsiapa yang berpuasa 10 hari, maka akan digantikan keburukannya dengan kebaikan.” Apakah semua itu adalah hadits-hadits palsu ? Lalu apa perbedaan antara hadits dlo’if (lemah) dan hadits ghorib ?”



“Beliau menjawab: “Semua hadits-hadits tersebut bukanlah hadits-hadits palsu, akan tetapi hanya bagian dari hadits-hadits dlo’if (lemah) yang boleh diriwayatkan untuk fadlo’ilul a’mal (keutamaan amal). Hadits yang pertama adalah riwayat Abu Syaikh bin Hayyan dalam kitab “ash-Shiyam”, oleh al-Ashbihani dan Ibnu Syahin dalam kitab “at-Targhib”, oleh al-Baihaqi, dan lainnya. Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar: “Tidak ada perowi dalam sanad hadits tersebut yang perlu ditinjau keadaannya selain Manshur bin Zaidah al-Asdi. Dan telah meriwayatkan darinya segolongan ulama, tetapi aku tidak melihat adanya penilaian ta’dil padanya. Al-Hafizh adz-Dzahabi menyebutnya dalam “al-Mizan” dan mendlo’ifkannya beserta hadits ini.” Adapun hadits yang kedua adalah riwayat ath-Thobroni, Abu Nu’aim, dan lainnya dari beberapa jalur yang sebagiannya dengan lafazh “pahalanya seperti ibadah 2 tahun” [bukan 700 tahun segala]. Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar: “Hadits ini mirip dengan hadits tadi tetapi jalur-jalur takhrij haditsnya lebih baik dari yang tadi. Sanad haditsnya lebih kepada hadits dlo’if yang mendekati hasan.” Adapun hadits yang ketiga adalah riwayat al-Baihaqi dalam “Fadlo’ilul Auqot” dan kitab lain. Ia memiliki beberapa jalur dan syawahid (penguat) yang dlo’if dan tidak tsabit, tetapi keadaannya jauh dari hadits palsu.” Adapun perbedaan hadits dlo’if dan hadits ghorib, maka antara keduanya ada keadaan yang umum dan khusus. Ada hadits yang dlo’if, tapi dalam waktu yang bersamaan ia juga merupakan hadits ghorib. Ada hadits yang ghorib tapi tidak dlo’if karena sanadnya shohih atau hasan. Ada hadits dlo’if tapi tidak ghorib karena ia mempunyai sanad yang banyak dan memiliki syarat dari beberapa syarat diterimanya suatu hadits, sebagaimana yang terdapat dalam ilmu hadits.” (Al-Hawi lil Fatawi lil Imam as-Suyuthi, juz 1 halaman 352, cetakan Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, tahun 1402 H/1982 M)

Dalam kitab yang lain, al-Hafizh as-Suyuthi berkata ketika mensyarahi hadits riwayat Muslim yang berbunyi:



“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair, atau dalam riwayat lain berbunyi: telah menceritakan kepada kami oleh Ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim al-Anshari, ia berkata, aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab:

“Aku telah mendengar Ibnu ‘Abbas rodliyallahu ‘anhuma berkata: “Dulu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.”

Beliau menerangkan:



“Aku katakan: Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abul Iman, juz 7, nomor 3521, dari Abu Qilabah, ia berkata: “Di dalam surga terdapat sebuah istana yang diperuntukkan bagi orang-orang yang rajin berpuasa Rajab.” Kemudian al- Baihaqi berkata: “Ini adalah riwayat paling shohih tentang keutamaan puasa Rajab. Abu Qilabah adalah seorang Tabi’in. Orang semacam beliau tidak akan berkata demikian kecuali memang mendapat kabar dari orang di atas beliau (shohabat) yang mengambilnya dari orang yang diberi wahyu (Rosulullah).” (Ad-Dibaj ‘ala Shohih Muslim bin Hajjaj lil Imam as-Suyuthi, juz 3 halaman 238, cetakan Dar Ibni ‘Affan, Arab Saudi, tahun 1416 H/1996 M)

5. Al-Imam Abdul Wahab asy-Sya’roni (wafat 973 H), seorang ulama ahli hadits, fiqih, dan sejarah yang juga seorang shufi agung. Beliau juga digelari ‘Syaikhul Islam”, sebuah gelar agung bagi ulama yang benar-benar menjadi panutan. Beliau berkata dalam kitabnya:



“Cabang: Tentang puasa Rajab. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa Rajab sebulan penuh. Ibnu ‘Umar rodliyallahu ‘anhuma berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Rajab dan memuliakannya.” Abu Qilabah rodliyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah istana yang diperuntukkan bagi orang-orang yang rajin berpuasa Rajab.”

(Kasyful Ghomah ‘an Jami’il Ummah, juz 1 halaman 300, tidak diketahui cetakan mana)

Catatan: Penjelasan mengapa Rosulullah melarang puasa Rajab sebulan penuh adalah karena dapat memberatkan. Jika tidak memberatkan, maka tidak mengapa. Keterangan mengenai ini sudah ada pada penjelasan Imam an-Nawawi diatas. Silakan tinjau kembali.

Di halaman selanjutnya, beliau berkata:



“Cabang: Tentang puasa di bulan-bulan mulia, yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rajab secara muthlaq. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Berpuasalah kalian di bulan-bulan mulia dan perbanyaklah amal yang tidak memberatkan kalian karena sesungguhnya Allah tidak akan menjauh hingga kalian menjauh sendiri.” Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud rodliyallahu ‘anhu: “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki yang badannya kurus. Beliau bertanya kepadanya: “Aku belum pernah melihat badanmu kurus.” Ia menjawab: “Ya Rosulallah, aku tidak makan di siang hari semenjak setahun lalu.” Beliau berkata: “Siapa yang menyuruhmu menyiksa dirimu sendiri ?” Ia menjawab: “Ya Rosulallah, aku ini kuat.” Rosulullah berkata: “Berpuasalah di bulan Sabar, yakni Romadlon, dan sehari setelahnya.” Ia menjawab: “Aku masih kuat.” Rosulullah berkata: “Berpuasalah di bulan Sabar dan dua hari setelahanya.” Ia menimpali: “Aku masih kuat.” Rosulullah berkata: “Berpuasalah di bulan Sabar dan 3 hari setelahnya, serta berpuasalah di bulan-bulan mulia.” Wallahu a’lam.” (Kasyful Ghomah ‘an Jami’il Ummah, juz 1 halaman 301, tidak diketahui cetakan mana)


6. Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (wafat 974 H). Beliau adalah ulama rujukan tertinggi dalam madzhab Syafi’i setelah Imam an-Nawawi. Beliau digelari “Khotimatul Muhaqqiqin” (penutup para Muhaqqiq). Setiap pendapat fiqih dalam madzhab Syafi’i yang beredar di Asia Tenggara dan sebagian jazirah Arab adalah pendapat beliau. Beliau ditanya mengenai puasa Rajab dan beliau menjelaskan dengan sangat panjang dalam kitab beliau, al-Fatawa al-Kubro al-Fiqhiyyah. Berikut ini ditampilkan bagian awalnya saja:



“Beliau rodliyallahu ‘anhu menjawab: “Sudah aku jelaskan tentang kesunnahan puasa Rajab dan itu sudah cukup. Adapun tindakan si faqih itu yang terus menerus melarang orang-orang untuk puasa Rajab, itu adalah kebodohan dan bentuk pengacak-acakan terhadap syariat yang suci ini. Jika ia tidak mencabut fatwanya tersebut, maka wajib hukumnya bagi para hakim untuk melarangnya dan memberikan hukuman yang keras baginya dan juga bagi orang-orang semisalnya karena mereka telah mengacak-acak agama Allah ini. Sepertinya orang-orang bodoh tersebut telah tertipu dengan riwayat bahwa Jahannam menyala-nyala dari tahun ke tahun bagi orang-orang yang rajin puasa Rajab. Orang-orang bodoh dan tertipu tersebut tidaklah mengetahui bahwa hadits tadi adalah bathil dan dusta yang tidak dihalalkan untuk meriwayatkannya sebagaimana yang dituturkan oleh asy-Syaikh Abu Umar dan Ibnu Sholah.” (Al-Fatawa al-Kubro al-Fiqhiyyah lil Imam Ibni Hajar al-Haitami, juz 2 halaman 53, cetakan Hanafi, Mesir, tanpa tahun)
7. Al-Imam al-Khothib asy-Syarbini (wafat 977 H). Beliau adalah diantara ulama terkenal yang mensyarah kitab Minhaj ath-Tholibin milik Imam an-Nawawi dengan nama Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj. Beliau berkata dalam kitab tersebut:



“Penutup: Seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah Romadlon adalah Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia). Seutama-utamanya Asyhurul Hurum adalah Muharrom karena terdapat hadits riwayat Muslim: “Seutama-utamanya bulan untuk puasa setelah Romadlon adalah bulan Allah, yaitu Muharrom, lalu Rajab”, sebagai bentuk penghindaran dari khilafiyyah tentang keutamaan Rajab di atas bulan-bulan mulia lainnya. Setelah itu adalah Sya’ban karena terdapat hadits riwayat Muslim: “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah puasa Sya’ban sebulan penuh”, dan dalam riwayat lain: “Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpuasa Sya’ban tidak penuh.” (Mughnil Muhtaj lil Khothib asy-Syarbini, juz 1 halaman 657, cetakan Darul Ma’rifah, Beirut, Lebanon, tahun 1418 H/1997 M)

Bersambung...

Baca juga artikel sebelumnya  Kesunnahan Puasa Rajab - Bagian 1

Source : Kalam-Ulama(dot)com
Editor : Redaktur KMNU UII
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII