Kesunnahan Puasa Rajab - Bagian 1

Kesunnahan Puasa Rajab - Bagian 1
Oleh: Muhammad Azka
Bismillahirrohmanirrohim.
Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Alihi wa Shohbihi.

Rajab adalah salah satu dari Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia), selain Dzul Qo’dah Dzul Hijjah, dan Muharrom. Oleh karena itu, Allah melarang ummat Islam untuk berperang di bulan-bulan ini demi menghormati kemuliaannya. Ada satu fenomena yang terjadi di masyarakat kebanyakan, yaitu mereka mengkhususkan bulan Rajab ini untuk berpuasa dan memperbanyak amal sholeh. Maka sudah benarlah apa yang mereka lakukan. Pada kenyataannya, hukum puasa Rajab secara khusus adalah sunnah.

Maksudnya, berpuasa di bulan Rajab dengan niat “puasa sunnah Rajab” adalah sunnah. Artinya, bukan hanya sekedar menjalankan puasa-puasa sunnah rutinan seperti puasa Senin Kamis, tapi di hari-hari selain itu juga disunnahkan puasa dengan niat “puasa sunnah Rajab”.

Selain itu, kita juga harus membedakan antara “Keutamaan Khusus Pahala Puasa Rajab” dengan “Kesunnahan Khusus Puasa Rajab”. Keutamaan khusus pahala puasa Rajab memang berasal dari hadits-hadits dlo’if (lemah), seperti jika berpuasa satu hari, ia akan mendapat pahala ibadah 2 tahun, dan sebagainya. Akan tetapi, kesunnahan secara khusus puasa Rajab itu memang ada, bahkan disunnahkan puasa satu bulan penuh. Berikut ini adalah kutipan dari kalam-kalam ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang kesunnahan secara khusus puasa Rajab: [terjemahannya sudah ada di masing-masing gambar]

1. Al-Imam al-Hafizh Ibnu Sholah (wafat 643 H). Beliau adalah ulama ahli hadits mumpuni yang dari ilmu beliau, muncullah ‘pencerahan’ tentang metode kritik hadits secara terperinci. Beliau adalah yang pertama kali memimpin Darul Hadits al-Asyrofiyyah, sebuah lembaga keilmuan hadits tertua yang dibangun oleh Raja Asyrof. Beliau juga merupakan ulama ahli tafsir, ushul, dan fiqih. Berikut fatwa beliau:

“Masalah: (Beliau ditanya) Puasa satu bulan penuh di bulan Rajab, apakah pelakunya mendapat dosa atau pahala ? Padahal ada sebuah hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Dihyah ketika ia berada di Mesir, ia berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Jahannam menyala-nyala dari tahun ke tahun bagi orang-orang yang rajin melakukan puasa Rajab !” Apakah hadits tersebut shohih atau tidak ?


Beliau rodliyallahu ‘anhu menjawab: “Tidak ada dosa baginya dalam melakukan puasa Rajab satu bulan penuh. Setahu kami, tidak ada satupun ulama ummat ini yang menyatakan itu berdosa. Memang, sebagian huffazhul hadits (para ulama yang bergelar ‘al-Hafizh’) berkata: “Tidak ada hadits yang tsabit tentang keutamaan puasa Rajab, yakni keutamaan secara khusus.” Namun bukan berarti harus menjauhi puasa tersebut. Hal ini dikarenakan telah ada nash-nash tentang keutamaan puasa secara muthlaq. Hadits yang tercantum dalam kitab Sunan Abu Dawud dan selainnya tentang perintah puasa di Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia) itu sudah cukup sebagai dalil kesunnahan puasa Rajab. Adapun hadits tentang menyalanya Jahannam bagi orang-orang yang berpuasa Rajab adalah tidak shohih. Maka tidak halal untuk meriwayatkannya ! Wallahu a’lam.” (Fatawa wa Masa’il Ibni Sholah, halaman 180, cetakan Darul Ma’rifah, Beirut, Lebanon, tahun 1406 H/1986 M)

2. Al-Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam (wafat 660 H), seorang ulama yang diberi gelar ‘Sulthonul Ulama’ (pemimpinnya para ulama) yang merupakan ulama pakar di bidang fiqih, ushul fiqih, dan hadits. Beliau ditanya tentang beberapa permasalahan, salah satunya tentang puasa Rajab:


“Apa pendapatmu mengenai yang disebutkan oleh para penceramah tentang keutamaan-keutamaan bulan-bulan Hijriyyah dan nasehat untuk melakukan amal-amal sholeh di bulan-bulan tersebut, dan termasuk sebaik-baiknya bulan tersebut adalah bulan Rajab ? Dan telah dikutip dari sebagian muhaddits tentang larangan berpuasa di bulan Rajab dan mengagungkan kemuliaan bulan tersebut karena hal itu menyerupai perbuatan Jahiliyyah dalam mengagungkannya. Bagaimana dengan hal itu ? Apakah puasa Rajab dan mengagungkan kemuliaan bulan Rajab itu terlarang karena sebab tersebut ? Dan apakah boleh bernadzar untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Rajab ?

(Beliau menjawab): “Adapun tentang apa yang disebutkan oleh para penceramah mengenai keutamaan-keutamaan bulan-bulan Hijriyyah, maka itu ada benarnya dan ada salahnya. Mungkin salahnya lebih banyak daripada benarnya. Puasa Rajab sebulan penuh yang sudah dinadzarkan itu wajib dilaksanakan dan itu dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukannya. Orang yang melarang puasa Rajab adalah ORANG YANG BODOH terhadap pengambilan hukum-hukum syari’at. Bagaimana mungkin itu terlarang, sedangkan para ulama yang membukukan syariat, tidak seorang pun dari mereka yang menyebutkan masuknya bulan Rajab ke dalam bulan yang makruh untuk dipuasai. Bahkan berpuasa Rajab termasuk ibadah sunnah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, karena apa yang datang dalam hadits-hadits shohih yang menganjurkan berpuasa, seperti sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah berfirman: “Semua amal ibadah anak Adam akan kembali kepadanya kecuali puasa”, dan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada minyak Misik”, dan sabda Nabi shollallahu ‘alaihin wa sallam: “Sesungguhnya puasa yang paling utama adalah puasa saudaraku, Nabi Dawud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.” Nabi Dawud berpuasa tanpa dibatasi oleh bulan, misalnya selain bulan Rajab. Barangsiapa yang mengagungkan bulan Rajab tanpa karakteristik seperti yang dilakukan orang-orang Jahiliyyah ketika mengagungkannya, maka itu tidaklah termasuk mengikuti mereka. Lagipula tidak semua yang dilakukan orang-orang

Jahiliyyah itu terlarang untuk diikuti, kecuali yang memang dilarang oleh syari’at dan yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah syari’at untuk ditinggalkan, [lanjutannya ada di gambar selanjutnya]

“dan tidak pula ditinggalkan hanya karena ahli kebathilan juga melakukannya. Orang dari kalangan ahli hadits yang melarang puasa Rajab dan mengagungkan kemuliaan Rajab adalah orang bodoh yang kebodohannya sudah diketahui. Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengikutinya dalam masalah agama. Begitupula tidak boleh bagi seorang muslim untuk taqlid, kecuali kepada orang yang sudah masyhur akan pengetahuannya terhadap hukum-hukum Allah dan metode pengambilannya. Orang yang menyandarkan diri pada orang yang melarang puasa Rajab adalah orang yang jauh dari kepahaman akan agama Allah, dan orang yang begitu juga tidak boleh diikuti. Barang siapa mengikuti orang semacam itu, maka sungguh ia telah tersesat dalam agamanya. Adapun orang berpuasa yang menelan air liur yang najis (iler atau eces) karena mulutnya gusar, maka itu tidak boleh dilakukan, dan puasanya akan batal. Jika menelan iler atau eces tersebut adalah hal yang haram ketika puasa, atau di luar puasa karena itu memang najis, maka batallah puasanya karena menelannya, disebabkan karena tidak adanya sebab keringanan yang membolehkan untuk menelannya.

Wallahu a’lam.” (Fatawa ‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam, halaman 116 dan 119, cetakan Darul Ma’rifah, Beirut, Lebanon, tahun 1406 H/1982 M)


3. Al-Imam an-Nawawi (wafat 676 H). Beliau adalah ulama yang sudah tidak diragukan lagi akan keimamannya. Beliau telah mencapai derajat Hujjatul Islam, yaitu ulama yang hafal 300.000 hadits beserta matan dan sanadnya. Beliau juga adalah ulama yang menjadi pentahqiq dan pentarjih madzhab Syafi’i era pertama sehingga dengan itu beliau menjadi rujukan tertinggi dalam madzhab Syafi’i.

Dalam masalah puasa Rajab, beliau menerangkan:


“Cabang. Berkata ash-hab kami (para ulama Syafi’iyyah): “Termasuk puasa yang mustahab (sunnah) adalah puasa di bulan-bulan mulia, yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rajab. Yang paling afdlol dari bulan-bulan tersebut adalah Muharrom.” Imam ar-Ruyani berkata dalam kitab al-Bahr: “Yang paling afdlol dari bulan-bulan tersebut adalah Rajab”, tapi ini adalah keliru karena ada hadits Abu Huroiroh yang akan kami sebutkan, insya Allahu Ta’ala, yaitu “Puasa paling utama setelah Romadlon adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharrom.” Termasuk puasa sunnah juga adalah puasa Sya’ban dan puasa di 9 hari pertama pada bulan Dzul Hijjah. Dan telah datang hadits-hadits yang banyak tentang itu semua, diantaranya hadits Mujibah al-Bahiliyyah dari ayahnya atau pamannya: “Bahwasannya ia (ayah atau pamanya) datang kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kemudian pergi. Lalu datang lagi pada tahun berikutnya, sedangkan kondisi fisiknya telah berubah. Ia berkata: “Wahai Rosulullah, apakah engkau masih mengenalku?” Beliau bertanya: “Engkau siapa?” Ia menjawab: “Aku dari suku Bahili yang pernah datang padamu pada tahun kemarin.” Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Kondisi fisikmu berubah, dulu fisikmu bagus sekali?” Ia menjawab: “Aku tidak makan kecuali malam hari sejak meninggalkan engkau.” Lalu Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mengapa kau menyiksa diri?” Lalu beliau bersabda: “Berpuasalah di bulan Romadlon dan puasa satu hari dalam setiap bulan.” Ia menjawab: “Tambahlah kepadaku karena aku masih mampu.” Beliau menjawab: “Berpuasalah dua hari dalam sebulan.” Ia berkata: “Tambahlah, aku masih kuat.” Nabi menjawab: “Berpuasalah tiga hari dalam sebulan.” Ia berkata: “Tambahlah.” Nabi menjawab: “Berpuasalah di bulan haram (bulan mulia) dan tinggalkanlah, berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah, berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah.” Beliau mengatakan hal itu tiga kali sambil memegang jari-jari laki-laki tersebut, kemudian melepaskannya.” Hadits riwayat Abu Dawud dan lainnya.” [lanjutan ada di gambar berikutnya]


Sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam: “Berpuasalah di bulan haram (bulan mulia) dan tinggalkanlah”. Beliau menyuruh laki-laki tersebut berpuasa di sebagian dalam bulan-bulan haram lalu menyuruh meninggalkan puasa di sebagian yang lain, itu karena berpuasa bagi laki-laki Bahili tersebut memberatkan fisiknya. Adapun bagi orang yang tidak merasa berat, maka berpuasa satu bulan penuh di bulan-bulan haram adalah keutamaan. Lalu hadits Abu Huroiroh, ia berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa paling utama setelah Romadlon adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharrom, dan sholat paling utama setelah sholat fardlu adalah sholat malam.” Hadits riwayat Muslim. Kemudian hadits ‘Aisyah, ia berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpuasa hingga kami berkata, “beliau tidak akan berbuka”, tetapi Nabi juga pernah tidak berpuasa, hingga kami berkata:“beliau tidak akan berpuasa”. Tidaklah aku melihat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Romadlon. Dan tidaklah aku melihat beliau berpuasa [di luar Romadlon] yang lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.” Hadits riwayat Bukhori dan Muslim dari berbagai jalur. Dan juga riwayat Muslim, Aisyah berkata: “Beliau berpuasa satu bulan penuh di bulan Sya’ban, tetapi beliau juga pernah berpuasa Sya’ban tidak penuh.”

(Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab lil Imam an-Nawawi, juz 6 halaman 438 – 439, cetakan Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Arab Saudi, tanpa tahun)

Bersambung...

Source : Kalam-Ulama(dot)com
Editor : Redaktur KMNU UII
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII