Sejarah Singkat Lahirnya Nahdlatul Ulama

Setelah komite hijaz terbentuk, dukungan dan desakan agar jam’iyyah besar berdiri semakin kuat dari mana-mana. Kalangan pesantren sudah saatnya bersatu padu. Tapi lagi-lagi Kiai Hasyim masih saja ragu. Ia meminta waktu untuk mengerjakan shalat istikharah, memohon petunjuk dari Allah. Saat itu ia teringat pada tongkat yang diberikan oleh Kiai Kholil, namun lagi-lagi keyakinan untuk mendirikan jam’iyyah itu belum bulat dihatinya. Ia begitu gelisah dan ingin berjumpa dengan gurunya, Kiai Kholil bin Latif, Bangkalan.

Waktu terus berjalan dan pendirian organisasi tersebut belum juga terwujud. Kiai Hasyim Asy’ari masih menunggu kemantapan hati. Sementara itu keinginannya untuk bertemu dengan Kiai Kholil sepertinya terbaca oleh mata batin gurunya itu. Maka sekali lagi santri As’ad dipanggil untuk menghadap. Kali ini As’ad akan diutus untuk memberikan tasbih Kiai Kholil kepada Kiai Hasyim.
Lalu berangkatlah santri As’ad ke Tebuireng untuk kedua kalinya. Dalam perjalanan ia sangat kelelahan, kepansan, kehausan, dan kelaparan. Santri As’ad bahkan sering dikira anak muda yang gila, karena lehernya berkalung tasbih ukuran lumayan besar, dan bibirnya sering komat-kamit. Tapi akhirnya sampai juga ia di Tebuireng.

“Kawula diutus Kiai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar santri As’ad sambal menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kiai Kholil di lehernya. Selama perjalanan, As’ad belum pernah sekalipun menyentuh tasbih itu, meskipun perjalanan dari Bangkalan menuju sangat jauh dan banyak rintangan.
Tidak hanya itu, santri As’ad bahkan rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab ia khawatir tasbihnya akan tersentuh. Jadilah posisi tasbih tidak berubah sama sekali. Ia memiliki prinsip, “kalung ini yang menaruh adalah Kiai, maka yang boleh melepasnya juga harus Kiai.”

“Terimakasih, Terimakasih.”

Tak lama kemudian Kiai Hasyim membungkukkan badan untuk mengambil tasbih itu langsung di lehernya santri As’ad. Setelah tasbih benar-benar pindah ke tangan Kiai Hasyim, santri As’ad berkata, 

“Maaf Kiai, Kiai Kholil meminta untuk mengamalkan wirid ya Jabbar ya Qahhar di setiap waktu, khususnya setelah shalat rawatib.”

Ketika mendengar pesan itu entah kenapa jantung Kiai Hasyim tiba-tiba berdegub kencang, dan tubuhnya bergetar. “Keinginan untuk membentuk Jam’iyyah sepertinya sudah saatnya,” ujarnya lirih.
Setelah kedatangan As’ad untuk kedua kalinya inilah keinginan Kiai Hasyim untuk mewujudkan pendirian jam’iyyah makin kuat. Ia telah menangkap isyarat bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama-sama kawannya mendirikan sebuah organisasi atau jam’iyyah. Kiai Hasyim menganggap inilah jawaban shalat istikharahnya.

Kebulatan tekadnya itu segera dikabarkan kepada Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Sansuri. Betapa gembiranya dua santri Kiai Hasyim itu, sebab mereka telah menunggu cukup lama. Lalu, disusunlah rencana untuk mengundang sejumlah kiai, baik dari Jawa maupun Madura. Pertemuan dihadiri oleh inisiator jam’iyyah yaitu KH. A. Wahab Hasbullah (Tambak Beras), KH. Bisri Sansuri (Denanyar), KH. Ridwan (Surabaya), KH. R. Asnawi (Kudus), KH. R. Hambali (Kudus), KH. Nawawi (Pasuruan), KH. Nachrawi (Malang), dan KH. Durumuntaha (Bangkalan). Mereka berkumpul di jalan Kebondalem, Surabaya.

Setelah bermusyawarah cukup lama, akhirnya diputuskan nama “Komite Merembuk Hijaz” diganti menjadi “Komite Hijaz”, kemudian nama itu diganti lagi dengan “Nahdlatul ‘Ulama”, tepat 31 Januari 1926, yang bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H.

Jadilah jam’iyyah yang diharap-harapkan terbentuk. Sidang memutuskan Kiai Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar, sedangkan Kiai Hasan Gipo ditunjuk sebagai Ketua Tanfidziyah. Nama jam’iyyah tercetus dari KH. Alwi Abdul Aziz yaitu Nahdlatul ‘Ulama.

*dikutip dari buku Penakluk Badai, penulis : Aguk Irawan MN.
 ------------------
ila muassis Nahdltaul Ulama alfatichah....
 

Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII