Reinventing Ghiroh Sastra Santri

oleh : Widiaturrahmi
Globalisasi, jangan dipandang sebagai ancaman diri melainkan sebagai tantangan dan peluang. Kemampuan santri merespon secara kritis dan kreatif terhadap pendesabuanaan membuktikan bahwa santri bukan hanya tidak tergerus dan tidak ketinggalan zaman, tetapi sebagai penyelesaian yang kreatif-transformatif
            Sekitar dua dekade terakhir, globalisasi menjadi wacana publik yang menarik perhatian sejumlah pihak. Ini mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang penting dari globalisasi sehingga banyak kalangan terpanggil untuk meresponnya.
Sampai derajat tertentu, eksistensi keberadaan santri masih terbilang lemah. Ketika terjaga dalam tidur panjangnya, umat Muslim sangat terkejut karena Eropa telah jauh meninggalkan mereka, terutama dalam hal ekonomi dan sains teknologi. Umat Muslim kemudian menggebu-gebu untuk segera mengejar Eropa. Celakanya, kuku-kuku kolonialisme Eropa terlanjur tertancap dalam tubuh umat Muslim. Dalam kaca mata sejarah, saat-saat seperti inilah adanya peranan santri didalamnya. Tapi kembali pada realitas, dimana santri berdiri di masa kekinian?
            Santri pada dasarnya harus mampu menjadi avant-garde dalam penulisan sastra Islam yang membumi dan universal serta mampu membaca kekinian dan kedisinian realitas kehidupan bukan hanya berada dalam potret kesilaman masa. Mencermati ciri ke-khasan santri yang menjadi sebuah pandangan masyarakat sekitar sekarang ini bahwa santri di dominasi hanya fiqh-minded dan melekatnya dengan kitab kuning, tidak sedikit masyarakat beranggapan bahwa santri hanya mampu menguasai pemikiran yang berbau fiqh/hukum saja dan tidak bisa membaca kekinian dan bersaing dengan peradaban bangsa-bangsa lain.
            Eksplorasi dinamika masyarakat di era globalisasi ini berimplikasi terhadap eksistensi pesantren di Indonesia sebagai indegeneous culture asli Indonesia. Saat ini tantangan yang dihadapi pesantren jauh lebih berat dibanding yang dihadapi pesantren di era sebelumnya, seolah dunia ini sedang lari tunggang langgang (runway world) karena begitu cepatnya perubahan yang terjadi. Dalam posisi ini peranan santri sangatlah berpengaruh, mau tidak mau santri tidak boleh duduk termangu menyaksikan perubahan zaman. Santri dituntut meresponnya dengan bijaksana, karena pada dasarnya di satu sisi santri menjadi tumpuan perubahan moral bangsa dan di sisi yang lain mampu melahirkan kaum terdidik yang religius.
            Implementasi semua itu tentu saja memerlukan pemikiran dan analisis yang matang. Santri tidak bisa grusa-grusu untuk mereformasi bahkan merevolusi diri demi menyesuaikan dengan modernitas zaman. Reposisi santri dari pusaran kejahiliyahan modernitas harus kembali pada pemberdayaan ummat. Menulis sama saja dengan membaca zaman, begitulah kiranya.
            Resolusi Jihad fii Sabilillah 22 Oktober..
            Salah satunya mari berjihad lewat tulisan.. Dulu di zamannya pernah kita dengar sederet nama santri yang aktif dan giat menulis tentang kehidupan ini, sebut saja Zawawi D.Imron, Cecep Zam-zam Noor, Kyai Musthofa Bisri (Gus Mus) dan setelah agak lama kita kenal Kuswaidi Syafi’i dengan puisinya “tarian mabuk Allah”. Secara kuantitas tentunya mereka tidak sebanding jika dilihat dari jumlah santri yang demikian amat banyak tersebar di penjuru Nusantara sekarang ini. Kalau boleh bertanya ada apa dengan santri yang kuat dalam pembacaannya tapi lemah dalam penulisan?
            Dalam hal ini seakan para imam waktu sadar betul akan keberlangsungan sebuah perjalanan waktu, hidup ini tidak hanya masa lalu yang penuh kenangan dan masa kini dengan kekiniannya tetapi masih ada masa depan dengan bayangan ghaibnya yang tak ada satupun mengetahuinya kecuali Sang Maha. Jika dikaitkan dengan pepatah, “ilmu yang terhenti akan menjadi sebuah penyakit” tentunya santri akan giat dan berusaha sekuat mungkin menulis gagasan bacaanya dalam sebuah tulisan.
            Tradisi tulis-menulis yang dulu pernah digaungkan oleh para ulama, sudah saatnya meski perlahan santri membangkitkannya lagi. Belajarlah dari sejarah, ambil apinya bukan abunya, kajilah sejarah bukan dari kronologinya tapi peristiwa besarnya yang melahirkan nilai-nilai dan garis-garis perjuangan ...
*santri = generasi muda
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII