Silaturrahim PWNU DIY Gelar Konsolidasi Organisasi Nahdlatul ‘Ulama DIY

Konsolidasi PWNU DIY dan Organisasi NU DIY (Dok.Pribadi 2015)
Yogyakarta, KMNU UII Online
Ahad (23/8), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan pengajian rutinan Ahad Wage sekaligus Konsolidasi Organisasi Nahdlatul ‘Ulama di Gedung PWNU DIY. Acara ini merupakan forum silaturrahim dari berbagai lapisan NU di DIY yang bertujuan untuk membahas dan mengevaluasi perkembangan program pengembangan NU secara keseluruhan. Selain itu, untuk mensosialisasikan hasil dari muktamar NU ke-33 di Jombang 1-5 Agustus lalu.

Dari seluruh tamu undangan  ini, tidak lupa Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama turut berpartisipasi dalam acara ini. Ini menandakan bahwa KMNU pun ikut berperan aktif dalam pengembangan perjuangan NU. Acara yang dihadiri seluruh unsur NU di DIY ini dibuka dengan pembacaan mujahadah tahlil, dilanjutkan dengan sosialisasi hasil Muktamar NU ke-33 di Jombang oleh KH.Hilmi Muhammad. Hal yang menarik dari hasil muktamar NU ke 33 kemarin dalam hal organisasi adalah beberapa perubahan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) NU diantaranya harus adanya penambahan huruf latin “N” dan “U” pada logo resmi tulisan  Arab “Nahdlatul ‘Ulama”,  penghapusan Lajnah dalam kepengurusan yang akan datang karena Lajnah akan berganti menjadi Lembaga, dan akan kembalinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi salah satu BANOM NU.

Dengan tema “ Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” diharapkan tidak hanya menjadi metode berfikir melainkan agar dapat dipraktikkan dalam meneguhkan dan mengistiqamahkan semangat seluruh elemen NU untuk memperkuat dalam menjaga tradisi dan kajian Islam Nusantara.

Dalam kesempatan ini, KH. Azhari Abta (Rois Syuriah PWNU DIY) menyampaikan pendapatnya mengenai Islam Nusantara. Dari segi bahasa, golongan-golongan “tekstual” pasti tidak sependapat dengan Islam Nusantara karena khawatir akan munculnya Islam-Islam yang lain seperti Islam Filiphina, Islam Malaysia, dan lain-lain. Menurutnya, Islam Nusantara merupakan Islam moderat (washatiyah) dibanding dengan metode berfikir yang lain yang sifatnya komperatif dan liberal.

Dalam satu sisi kita bisa melihat NU mudah diterima oleh kalangan masyarakat karena apresiasinya yang lebih banyak dalam amar ma’ruf, bisa terbayang jika NU banyak nahi munkarnya akan mudah atau sering menjudge ini haram, ini bid’ah finnar. Maka dari itu kunci sifatnya Nu itu adalah “telaten” seperti yang dicontohkan para ulama sebelumnya sehingga NU meneruskan perjuangan wali songo yaitu “Islam Nusantara”. Poin penting yang menjadi kekuatan dalam suatu organisasi adalah strategi da’wah yang lemah lembut berkiblat pada strategi da’wah Rasulullah SAW, karena Rasul tak pernah menegur secara keras ibarat mengambil ikan maka ambillah secara pelan tanpa membuat air kolamnya keruh (buthek) dan ketika ada dua bahaya datang dalam organisasi, ditabrak bahaya kecil dan dijaga bahaya besar (menurut tokoh-tokoh ulama moderat).(Widia/AUN)

-------------------------------------------------------
Hasil Muktamar NU ke 33 bisa di klik disini

Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII