Pak Dirman Menjemputku*

Jumat pagi itu, udara menyisakan embun dan kabut yang melayang. Dingin mencekam di Bantul. Dedaunan basah oleh embun. Tetes-tetes embun pun membasahi rerumputan hijau di Lapangan Paseban, jantung kota Bantul. Bahkan ketika telah tertetes satu butir air, daun itu kembali menengadah harus menunduk lagi karena air mengalir kemudian,

Di sebuah sudut kota, tepat di sebuah rumah tua. Berdinding tebal, dan lengkap dengan arsitektur rumah ala Jawa. Luas sekali rumah itu. Ada beberapa kamar yang memenuhi rumah tersebut. Namun sayang, hanya tinggal beberapa orang saja yang tinggal. Seorang kakek tua, beserta anaknya dan cucunya.

Kakek itu bernama Mangunkrama, kerap dipanggil dengan Mbah Mangun. Kakek tua berusia sekitar delapan puluh tahun ini terbaring kedinginan di rumah berdinding tebal. Mbah Mangun memiliki luka dilengannya bekas tertancapnya peluru senapan Belanda kala itu. Tapi tangan beliau masih dalam keadan baik-baik saja sekarang, setelah mengalami masa pengobatan pada perjuangan dulu. Tapi jahitan itu masih terus memprasastikan perjuangan Mbah Mangun.

"Mbah, ayo jalan-jalan," ajak cucunya, ia bernama Shaleh.
Mbah Mangun terdiam. Sejenak kemudian Mbah Mangun berusaha bangkit dari pembaringan.

"Di luar udara masih segar kok Mbah," ungkap lagi Shaleh.
Mbah Mangun kemudian duduk di pembaringan dengan kakinya telah menyentuh lantai.

"Le, Simbah dituntun ya," pinta Mbah Mangun kemudian kepada Shaleh. Dengan tertatih kemudian Mbah Mangun berjalan dengan dituntun oleh Shaleh menuju daun pintu.

Di depan daun pintu, masih berada di dalam rumah. Tiba-tiba saja Mbah Mangun berujar kepada Shaleh,
"Ayo Le lebih cepat lagi, di depan aku sudah ditunggu Kang Joyo, Kang Rahmat, Pak Jiman, Pak Sugiono, Pak Katamso, Pak Dirman, eh, ada Nenekmu juga. Kau lihat ada bendera Merah Putih berukuran besar berkibar di depan rumah kan Leh, Shaleh?"

Shaleh merinding, entah kenapa bulu kuduknya terpaksa berdiri. Tangan kirinya menggosok-gosok tekuknya. "Iii.... iya Mbah," jawab Shaleh kemudian. Berjalan beberapa depan di luar rumah kemudian kakeknya berucap sesuatu.

"Assalamu'alaikum Pak Dirman, Merdeka!" ucap keras Mbah Mangun.

Setelahnya, Shaleh kaget karena tubuh kakeknya rubuh tepat di badannya. Dengan perlahan Shaleh merebahkan tubuh Mbah Mangun. Sambil kemudian berteriak, "Simboooook, Simbooook, Simbah Sedoooo!!!" Shaleh kemudian menangis keras. Mengguncangkan bumi pertiwi.
Ibu Shaleh, Pratiwi berlari menuju depan rumah. Berikut juga tetangga-tetangga Mbah Mangun. Mereka berlari, teriakan Shaleh seperti meruntuhkan langit dan mengguncangkan tanah. Shaleh masih menangis, dan menangis. Sangat keras. "Simbaaah! Mbaaah!" tangisnya.
Jumat itu berkabung.

*Cerita hanya fiktif, jangan cari di Bantul. Terinspirasi dari Battle of Surabaya, cuma terinspirasi kalau cerita ngarang sendiri. Untuk bumi pertiwiku, Indonesia. Terima Kasih Para Pahlawan Bangsa. 

Oleh : Mazdan Maftukha
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII