Nashrul ‘Ilmi Da’wah Islam KMNU

Nashrul ‘Ilmi Da’wah Islam KMNU
Oleh : Widiaturrahmi*

Sebagai Respon Terhadap Islamisasi Pengetahuan

Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al quran dan Al –sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan ,serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat dan moralitas tinggi

                                                      (Dr Mahadi Ghulsyani)
Ilmu yang berkembang dari dunia Barat saat ini dilihat dari kacamata rasio dan panca indera, jauh dari wahyu dan tuntunan Ilahi meskipun telah menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi manusia, tetapi melahirkan pula dampak negatif baik terhadap kemanusiaan, alam dan etika. Harun Yahya dalam bukunya The Disasters Darwinism Brought to Humanity menggambarkan berbagai bencana kemanusiaan yang ditimbulkan akibat Darwinisme, di antaranya berupa rasisme dan kolonialisme. Peradaban Barat sebagaimana ditulis oleh sejarawan Marvin Perry, adalah sebuah peradaban besar, tetapi sekaligus sebuah drama yang tragis (a tragic drama) Peradaban ini penuh kontradiksi. Satu sisi, ia memberi sumbangan besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang membuat berbagai kemudahan fasilitas hidup, tapi di sisi lain peradaban ini memberi kontribusi yang tidak kecil terhadap penghancuran alam semesta.

Di era globalisasi ini, paham pluralisme agama yang diusung Barat telah menampakkan sifatnya yang intoleran dan eksklusif. Kaum Pluralis mengklaim diri merasa benar secara absolut dan hanya gagasan pluralisme agama sendirilah yang absolut benar. Klaim ini melahirkan inkuisisi model baru atas nama perang melawan terorisme. Inkuisisi ini lingkupnya jauh lebih luas, global dan tidak lagi mengenal batas-batas memusnahkan secara masal. Dari pengejaran, penginterogasian, penyiksaan dan pengingkaran hak-hak asasi perorangan atau kelompok yang diduga berseberangan atau berkeyakinan beda. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dimana ilmu pengetahuan yang terBaratkan (westernisasi) bertumbuh kembang disini, melahirkan kaum pluralis agama intoleran seperti gerakan ISIS yang sudah membumi budaya terlebih terhadap kawula muda. Pemahaman orang-orang yang masih dangkal menjadi cambuk yang kuat dalam memandang Islam, mereka akan dengan mudah disuntik doktrin-doktrin yang mampu mengatasnamakan kebenaran yang disalah kaprahkan sehingga jatuhlah pandangan Islam sebagai agama yang toleran, tawazun dan adil.

Kerusakan dunia sekarang ini ditimbulkan oleh kerusakan ilmu mencakup juga ilmu-ilmu di bidang sains, terutama sains alam (natural sciences). Dari masalah ini perlu digali kembali ide Islamisasi ilmu yang pernah dirintis oleh para cendekiawan muslim tiga dasawarsa lalu yang saat ini gaungnya mulai berkurang. Jika dilihat secara teliti, strategi para ulama dulu pun merupakan stategi yang relevan terhadap pendidikan di Indonesia. Buktinya banyak tokoh-tokoh yang lahir dari buah pemikiran dan campur tangan didikan para ulama yang sanggup menegakkan kebenaran ditengah kebejadan moral. Berdirinya pondok pesantren dan organisasi kaum muda Islam pun membawa pengaruh yang kuat terhadap masa depan bangsa. Berbeda dengan sekarang ini ilmu pengetahuan yang diserap oleh para penuntut ilmu menjadikan mereka berpola fikir dominan pada rujukan Barat dimana sebuah utility yang bertumpu pada sikap egoistic dan materialisme merupakan titik finish dari perjalanan mereka menuntut ilmu. Pandangan seperti inilah yang menjadikan generasi muda tercipta sebagai rational economic man. Dengan menggaungkan kembali Islamisasi sains ini diharapkan kesadaran umat mengenai hal ini, terutama bagi para penuntut ilmu makin tinggi.

Format Ideal

Lahirnnya KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama) di tengah-tengah Indonesia menjadi solusi alternatif bagi pemahaman dan strategi da’wah generasi muda.  Pola fikir yang dipakai  merujuk pada dua pusaka yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yaitu Al Qur’an dan Al Hadits dan juga tidak meninggalkan tradisi-tradisi ulama yang dinilai merupakan penggerak demi keberlangsungan masa depan bangsa yang terhormat. Sebagaimana seorang pejuang Muslim “Musthofa Al Ghulayani” menyanjungkan dalam syairnya :
“Innamal umamul akhlaaqu maa baqiyyat, fainhumu dzahabat akhlaaquhum dzahabuu (Sesungguhnya suatu bangsa akan menjadi jaya dan terhormat ketika memiliki akhlak yang luhur, jika hilang akhlaqnya maka hilang pulalah kejayaan dan kehormatannya)”.

Berkaca pada sejarah, teladan dari para ulama sangat berimplikasi terhadap dinamika organisasi KMNU. Satu dua pemikiran yang lahir dari para ulama terdahulu dinilai merupakan format ideal dalam mengatur keorganisasian didalam KMNU sendiri. Tak pelak lagi jika ulama kerap disebut sebagai katalisator bagi organisasi KMNU yang semakin hari seolah telah menjadi platform yang istimewa. Selain itu, KMNU sendiri sangat memegang teguh prinsip dari pengamalan Pancasila. Ibarat pohon, Pancasila mengakar kuat ke bawah dan menjulang tinggi ke atas. Ke bawah yang berarti nilai-nilai Pancasila memang mengakar pada bangsa Indonesia, dan ke atas yang berarti bisa diterima dan  mengambil nilai-nilai yang baik dari luar Indonesia.  

Pada masanya, KMNU telah melahirkan kader-kader yang intelektual, militan dan agamis ditengah bangsa Indonesia. Karya-karya mereka perlu diakui dunia bahwa sejatinya tujuan dari ilmu pengetahuan bukanlah yang menjadikan mereka pintar ditengah orang-orang bodoh tetapi ilmu pengetahuan adalah yang menjadikan mereka bisa bermanfaat ditengah-tengah terhadap orang banyak. Fikiran mereka merespon ilmu pengetahuan Barat, tetapi mereka pun menyaring apa yang mereka dapat sehingga mereka bisa memilah dan memilih mana yang dianggap bisa diterima dan ditolak dalam konsep pemahaman ilmu pengetahuan. Di satu sisi sains Barat dijadikan sebagai daya pembanding terhadap ilmu pengetahuan Islam. Salah satunya sistem kaizen yang dipakai oleh Jepang dalam kemajuan negaranya telah diadopsi oleh kader KMNU dalam merespon ilmu pengetahuan modern. Ambil yang baik, buang yang buruk dan ciptakan yang baru merupakan suatu konsep pemahaman kader KMNU dalam menanggapi sains Barat. Dengan kata lain, sains Barat diadopsi sedemikian rupa sehingga tidak melahirkan paradigma-paradigma yang menjauhkan dari tuntunan agama Islam. Paradigma tersebut bukan imitasi dari Barat, bukan juga untuk semata-mata memenuhi kebutuhan ekonomis dan pragmatis pelajar untuk ilmu pengetahuan profesional, kemajuan pribadi atau pencapaian materi. Namun, paradigma tersebut harus diisi dengan sebuah misi, yang tidak lain adalah menanamkan, menancapkan serta merealisasikan visi Islam dalam ruang dan waktu.

Jas merah, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah” tegas Bung Karno sangat pas ditancapkan pada jati diri KMNU. Jika generasi muda melupakan sejarah maka akan dengan mudah tersuntik doktrin-doktrin sains maupun budaya Barat yang negatif. Jika kita tarik benang merah, ilmu penegetahuan yang diamalkan pun akan mengantarkan pada strategi da’wah yang membawa Islam rahmatan lil ‘alamin. Di sekitar kebanyakan yang terjadi menanggapi dengan mudah menerima seluruh yang berasal dari Barat tanpa adanya filterisasi sebelumnya. Membantu identik dengan filosofi “memberi ikan” yang berarti menerima dan bekerja sama memasukkan paradigm Barat, sedangkan membudidayakan menggunakan filosofi “memberi kail” yaitu menerima sekaligus memfilter apa yang diterima agar tidak berdampak negatif. Ini yang harus dipahami!!

*Penulis merupakan kader Aktif KMNU UII, Mahasiswi jurusan Ekonomi Islam UII sekaligus Santri Putri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta.
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII