'Gaduh' Muktamar, 'Teduh' KMNU (2)

sambungan.....
Mengambil pelajaran dari Muktamar kemarin, salah satu tulisan yang layak dirujuk ditulis oleh Kiai Nurul Huda berjudul Kharisma di Tubuh NU. Tulisan tersebut mampu dengan cermat melihat sisi teduh di tengah pemberitaan gaduh Muktamar kemarin.

Kiai Nurul Huda menulis bagaimana NU melalui para kiainya mampu menyelesaikan masalah dengan elegan. Ia menjelaskan dengan baik, bagaimana proses Muktamar kemarin sesungguhnya telah meninggalkan pelajaran berharga bagi kita semua, yakni tentang kharisma ruhiyah dan kharisma ilmiyah di dalam NU.

Kharisma itu bukan diciptakan, ia memang boleh jadi hasil dari tempaan laku batin yang istiqomah lalu Tuhan menghadiahi kewibawaan ruhiyah yang melintasi rata-rata. Kharisma itu tidak bisa direkayasa, ia muncul dari keluasan ilmu dan hati yang telah menyamudera.

Dalam dinamika organisasi NU, masalah yang tersaji dalam Muktamar kemarin bukanlah barang yang pertama. Perjalanan NU dari masa ke masa sangat dinamis, sehingga apa yang tersaji di Muktamar NU kemarin ada yang menyebutnya sebagai dinamika organisasi yang biasa. Namun kharisma di tubuh NU yang dimiliki para kiai, NU selalu mampu menyelesaikan masalah-masalah internalnya dengan elegan.

Tentu banyak pelajaran yang diwariskan para kiai kita dari masa ke masa. Salah satu pelajaran penting ialah sebelum Muktamar NU ke-27 Tahun 1984 di Situbondo. Kala itu para kiai NU terbelah menjadi dua, yakni kubu Cipete dan kubu Situbondo. Keduanya berseberangan dan mengadakan Munas versi kubu masing-masing. Sampai kemudian para kiai sepuh ‘turun gunung’ dan mampu mengakrabkan kembali kedua kubu tersebut.

Pelajaran tersebut kembali diwariskan Gus Mus di akhir jabatannya sebagai Rais Aam. Gus Mus mampu mempertahankan kharisma NU tersebut. Kiai Nurul Huda menulis: 

Ini sungguh-sungguh kharisma ruhiyah yang tidak dibuat-buat, bukan prilaku lebay yang sedang mengemis sehingga mendapat perhatian dan simpati muktamirin. Gus Mus menegaskan semua itu demi keutuhan Nahdhatul 'Ulama. Faktanya, keretakan di Perahu Besar NU itu segera tertambal oleh pidato yang hanya beberapa menit itu.

Kharisma tersebut tentu bukan semata menjadi keharusan bagi NU untuk menjaganya, namun hendaknya juga menjadi cermin dan pelajaran bagi bangsa dan negara ini yang sedang dilanda krisis kharisma dan keteladanan para pemimpinnya.

Tanpa kharisma tersebut, kita melihat bagaimana para pemimpin kita tidak mampu membangun wibawa negara ini. Kedaulatan hukum tidak mampu ditegakkan, pun kedaulatan ekonomi bangsa ini, dan aspek lain kehidupan berbangsa dan bernegara telah roboh sebab para pemimpin kita tidak mampu membangun wibawa bangsa dan negara ini.

Yang tidak kalah menarik lain, bagaimana sikap tawadlu para kiai NU membalut kharisma ruhiyah dan kharisma ilmiyah tersebut. Demi persatuan dan kemaslahatan organisasi, Gus Mus bersikukuh menolak jabatan Rais Aam meski dipilih oleh para kiai terpilih. Hal tersebut merupakan pelajaran berharga di tengah krisis moral berpolitik yang terjadi saat ini. 

Saat bangsa ini sedang dilanda perebutan berbagai hal; saat bangsa ini tidak mampu bersatu karena memperjuangkan kepentingan bagian; saat bangsa ini sedang gemar-gemarnya berebut jabatan dan kedudukan, NU menunjukkan pelajaran berharga dengan sikap tawadlu para kiai dan kharisma khasnya. Sungguh pelajaran nyata yang sangat berharga.

********
Menjawab tulisan Doktor Nadirsyah Hosen, KMNU tentu harus turut menjadi bagian dalam perbaikan NU ke depan. Inilah yang saya maksud sebagai ‘teduh’ KMNU untuk NU di masa mendatang: bahwa KMNU harus turut menjadi bagian dalam memberi keteduhan bagi NU di masa mendatang !

KMNU harus belajar dari Muktamar NU kemarin. Mengkajinya dengan baik dan membangun kontruksi permasalahan dengan cermat untuk menemukan jawaban sebagai kebutuhan perbaikan NU di masa mendatang. Pelajaran penting dari evaluasi tersebut nantinya akan menjadi poin-poin penting dalam membangun sistem kaderisasi dan organisasi KMNU dengan baik.

KMNU harus menjadi NU kecil di tengah kehidupan berkemajuan perguruan tinggi, bukan menjadi PKB kecil di tengah pergerakan politik di perguruan tinggi. Sebab itu, KMNU harus menjadi wadah lahirnya generasi muda NU yang memiliki kharisma ruhiyah dan ilmiyah, bukan generasi yang gemar berebut kursi dan mengatur ‘suara’.

Dan yang tidak kalah penting lain, Muktamar kemarin hendaknya menjadi pelajaran bagi KMNU untuk membangun sistem organisasi yang mampu menjawab kebutuhan berorganisasi di masa mendatang. Sehingga KMNU ke depan mampu menjawab kebutuhan NU dan bangsa Indonesia di masa mendatang. Wallahua’lam bisshowab.

*Penulis Kadiv Kominfo serta Direktur Pusat Studi Hukum dan Islam Nusantara (PSHIN)
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII