'Gaduh' Muktamar, 'Teduh' KMNU (1)

Oleh Achmad Faiz MN Abdalla*

Seperti halnya Muktamar NU ke-33 di Jombang kemarin, Munas KMNU di Pesantren Pandanaran lalu diwarnai pembahasan tata tertib (tatib) yang alot. Bila kealotan pada Muktamar NU ke-33 lalu terkait usulan menggunakan ahlul halli wal aqdi, entah pada Munas KMNU lalu tepatnya soal apa. Samar-samar saya mengamati. Namun yang jelas berjalan alot.

Salah satu peserta Munas kala itu, menengarai bahwa kealotan pembahasan tersebut disebabkan kuatnya hasrat ‘berkuasa’ oleh beberapa pihak di Munas KMNU pertama tersebut. Andaikan para peserta mendahulukan organisasi, pembahasan tidak akan berlangsung alot, kata peserta tersebut.

Berbicara ‘berkuasa’, saya teringat kala mengikuti Konferensi Cabang (Konfercab) PC IPNU Gresik beberapa tahun lalu. Salah satu pengurus IPNU Gresik kala itu mengatakan bahwa tidak keren bila kader IPNU tidak berpolitik. IPNU tidak berpolitik ialah IPNU tertinggal zaman, ujarnya.

Entah apa maksudnya. Politik apa yang dimaksudkannya. Namun tidak lama setelah itu, saya mendengar ada politik uang di Konfercab tersebut. Samar-samar saya mendengar, salah satu calon ketua IPNU Gresik kala itu didukung oleh salah satu politisi lokal. Entah benar atau tidak, namun demikian saya dengar.

Sampai kemudian, saya menyimpulkan bahwa ada yang salah dengan kaderisasi IPNU di lingkungan NU Gresik. Di sana, sulit membedakan antara NU dan PKB. Kader IPNU berlomba-lomba berkuasa di IPNU untuk meloncat ke PKB. Pengurus dan kadernya lebih mengerti bagaimana mengatur ‘suara’ daripada menguri-uri tradisi atau memahami subtansi Nahdlatul Ulama.

Organisasi tidak bicara kaderisasi dengan baik, tidak bicara dakwah dengan baik, pun membangun pemahaman dan tradisi NU dengan baik. Sebaliknya, pengurusnya berbondong-bondong menjalin relasi dengan partai politik. Pengurusnya sibuk berebut peran sebagai tim sukses. Kiranya, yang perlu diorientasikan ialah pengurus IPNU itu sendiri, bukan calon anggotanya.

Alhasil, saya kemudian menjadi paham mengapa Muktamar NU kemarin menjadi gaduh. Entah, mungkin kesimpulan saya salah. Mungkin ada faktor lain yang lebih dominan. Namun saya kira, sedikit banyak ada kausalitas antara sistem kaderisasi di tubuh NU dengan kegaduhan kemarin. Jelasnya, kaderisasi di tubuh NU seharusnya menjadi perhatian kita semua.

Yang perlu saya tekankan di sini, harus diakui bahwa kegaduhan dalam Muktamar kemarin memang terjadi. Baik kegaduhan tersebut dimaknai dalam arti sesungguhnya, atau kegaduhan tersebut diperhalus dengan memaknainya sebagai dinamika organisasi. Faktanya, NU Online telah meminta maaf kepada media-media yang disebut menyelewengkan fakta berita.

Dalam suratnya, Gus Mus pun menegaskan kegaduhan tersebut:

Seperti kita ketahui, muktamar sekarang ini diwarnai oleh sedikit kisruh yang bersumber dari adanya dua kelompok yang masing-masing menginginkan jagonya lah yang menjadi rais aam. Satu berusaha mempengaruhi muktamirin untuk memilih A, satunya lagi B dan sistem Ahlul Halli Wal 'Aqdi pun dianggap sebagai alat oleh salah satu kelompok tersebut...

Begitu gaduhnya, Gus Mus sampai menangis dan bergetar suaranya dalam berpidato:

Saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktik-praktik tak terpuji dari pihak lain ternyata digambarkan di media massa begitu buruknya...

Jelaslah, bahwa ada kekisruhan di dalam Muktamar kemarin. Ada kemunduran moral berorganisasi di dalam NU. Islam ramah yang kita dengungkan melalui Islam Nusantara, justru kita robohkan sendiri sebab urusan mencalonkan jagoannya di Muktamar. Alhasil, banyak yang khawatir dengan keadaan tersebut. Banyak yang merasa gelisah dan kurang nyaman dengan keadaan tersebut.

Maka kaum muda, penting untuk belajar dan bersikap positif atas kondisi tersebut. Doktor Nadirsyah Hosen semisal melalui tulisannya, berusaha memberi kelegaan di tengah Muktamar yang gaduh kemarin. Meski gelisah dengan keadaan NU yang tersaji dalam Muktamar kemarin, ia pun berusaha melihat harapan bagi masa depan NU.

Melihat kondisi muktamar seperti ini, apa masih ada harapan untuk NU ke depan? Tanyanya kepada Gus Mus.

Dengan gaya khasnya, Gus Mus menjawab: Tentu saja masih ada. Kalau saya tidak punya harapan lagi akan nasib NU nggak mungkin saya mau menghampiri sampeyan. Kalau putus asa dan nggak merasa ada harapan lagi, ya ngapain kita semua masih hidup?

Selanjutnya, Doktor Nadirsyah Hosen pun menyerukan kepada kaum muda NU untuk banyak belajar dari Muktamar NU kemarin:

Banyak sekali pelajaran yg bisa kita ambil dari muktamar kali ini. Semoga kita bisa ambil hal-hal yang baik termasuk ketauladanan Gus Mus dan bertekad untuk mengubah hal-hal yang masih kurang baik di kemudian hari pada saat kita mendapat amanah untuk memperbaikinya... Harapan perbaikan itu masih ada, dan semoga kita semua menjadi bagian dari harapan itu !

Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII