Tanya Jawab : Bagaimana menyikapi tentang membuka rumah makan disaat puasa Ramadhan?

Bagaimana menyikapi tentang membuka rumah makan disaat puasa Ramadhan?
Pertanyaan :
Begini, masalah Menag yang kontroversial, sebetulnya selama ini saya mencari info sendiri semampunya. Tentang ucapan Menag yang kontroversial ini, teman-teman saya banyak yang setuju, tetapi lebih banyak lagi yang tidak setuju sama ucapan beliau di twitter.
Saya juga termasuk tidak setuju, bagimana ya ustad? Apakah ada benarnya juga seperti apa yg dikatakan menag di twitter?  Kita yang seharusnya menghormati mereka yang tidak wajib puasa sehingga warung-warung makan itu boleh buka terang-terangan tanpa ditutup-tutupi.
Sebenarnya saya tidak  masalah sebetulnya mereka mau buka terang-terangan atau tidak, memang tidak apa-apa kan kalau kita seorang muslim berdagang dengan yang non muslim. hanya saja disini yang saya kurang setuju adalah terang-terangannya ustad, sudah sudah tidak ditutup-tutupi lagi, takutnya nanti malah banyak warung makan atau restoran malah seperti itu, bagaimana ya ustad? Saya belum begitu paham sebetulnya
Jawaban :
Pertama, jika ada isu yang berkembang maka Allah  mengajari kita untuk
bertabayyun (klarifikasi). Allah  berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Kedua, husnu-dzān atau berbaik sangka dan menjauhi buruk sangka. Rasulullah  bersabda :

عليكم بكثرة الظن

Artinya : Berhati-hatilah kalian terhadap banyak berprasangka.

Ketiga, jangan sekali-kali sengaja mencari kesalahan orang lain. Firman
Allah  dalam al-Qur’an :


وﻻ تجسسوا

Artinya : janganlah kalian saling memata-matai (mencari cela sesama).
Secara pribadi, saya melihat bahwa dibalik kata-kata beliau (Menteri Agama) ada tasammuh (toleransi) dan pengamalan agama yang tawassuth (moderat). Tidak menjadikan agama ini sebagai sesuatu yang mengerikan dan keras serta merugikan sesama. Karena secara fiqh bab Buyū' (jual beli) khususnya dalam madzhab Imam Syafi'i diantara jenis jual beli yang dilarang tidak ada satu pun yang menerangkan jual beli makanan dibulan Ramadlan haram. Bukankah ini sudah dipikirkan matang-matang oleh para ulama. Mempertimbangkan baik buruknya ketika mau menetapkan jual beli yang terlarang. Mereka meluluskan jual beli makanan dibulan Ramadlan boleh. Para ulama lebih tahu atas hal itu.
Tidak semua orang Islam dibulan Ramadlan juga berpuasa menurut saya adalah alasan yang cukup ma'qūl (diterima akal). Kita ini beragama Islam, agama yang penuh rahmat dan kasih sayang. Islam kita bukan Islam yang memaksa agar semua orang sama dengan kita. Jika kita berpuasa maka semua orang harus mengkondisikan dirinya sama dengan kita. Tapi agama kita adalah agama yang penuh dengan toleransi. Ingat, islam kita ini islam yang penuh dengan
nilai luhur. Kita dituntut menghormati orang lain sebelum minta untuk dihormati.

Wallahu a'lam
Oleh : Adhli Alkarni  (Staff bagian Kajian dan Dakwah Aswaja, Depnas Litbang KMNU Nasional)
Redaksi KMNU Online
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII