Shobah : "Mengapa Kita Harus Berpuasa?"

Shobah : "Mengapa Kita Harus Berpuasa?"
Yogyakarta, KMNU UII Online
Kajian Ramadhan Ahad (28/6) merupakan kali ketiga diadakan oleh Divisi Kajian, Dakwah dan Spiritual (Kadasi) KMNU UII. Kali ketiga ini, Divisi Kadasi mengundang salah satu jajaran Dewan Syuriyah KMNU UII yakni Ahmad Nur Shobah. Di sela-sela padatnya jadwal beliau, Shobah – panggilan akrab beliau – menyempatkan waktu untuk bersilaturrahim kepada KMNU UII.

Dalam kajiannya, Shobah menegaskan urgensi pentingnya menjalankan Puasa di bulan Ramadhan. Pada awal kajian, Shobah memantik mengenai subjek yang dikenakan wajib menunaikan ibadah puasa seperti yang termaktub dalam Al Quran. Orang iman yang semestinya menjalankan puasa seperti yang dikatakan sebagai Alladzina Amanu merupakan orang yang imannya tidak seperi iman masuk angin atau iman kumatan.

Para shohabat, sebagai santri generasi pertama yang ilmunya langsung dari Nabi Muhammad SAW merupakan orang-orang yang imannya kuat. Keyakinan itu selalu hadir dalam hati mereka. Hal ini dikarenakan zaman mereka masih adanya Nabi Muhammad SAW yang menjadi penguat rasa yakin dalam hati mereka. Iman seperti inilah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut sehingga sebelum berpuasa maka harus lulus dahulu dari pangkat iman.

Sebelum Ramadhan – sebagai bulan Puasa – maka iman itu harus ditata terlebih dahulu. Dalam hal ini, hati dipersiapkan memasuki bulan Ramadhan sejak bulan Rajab. Doa yang terkenal sebagai Doa bulan Rojab itu juga merupakan bentuk penyiapan iman untuk memasuki Ramadhan. Kemudian Walisongo pun menggunakan momen ini juga untuk mentradisikan padusan, sadranan, dan lainnya. Sehingga dengan semua itu, Ramadhan (Puasa) bukan sekedar sebagai rutinan tahunan semata karena penataan hati, ikhtiar, dan tawakal mengiringinya.

“Mengapa manusia itu disuruh puasa? Ya, karena manusia itu ndableg. Kenapa kok ndableg? Karena manusia itu diciptakan dari dua unsur, pertama itu jasmani, kedua itu ruhani,” ungkap Shobah. Kedua unsur inilah yang menjadikan manusia itu istimewa pada penciptaannya. Adanya unsur ruhani itulah, sifat-sifat ketuhanan ada di dalam manusia. Unsur inilah yang melengkapi jasmani yang merupakan benda mati karena ruhani itu hidup.

Bahkan diungkapkan pula oleh Shobah bahwa khalifah fil ardh yang dimaksud dalam Al Baqarah ayat 30 itu merupakan penurunan sifat-sifat ketuhanan (ruhani) kepada manusia. Bahwa manusia menjadi wakil Allah di Bumi tidaklah cukup dengan bekal atau unsur jasmaniyah saja, tetapi juga harus matang menjadi insan yang beruhani. Hal ini berkaitan dengan sifat ndableg-nya manusia, ndableg disini merupakan representasi dari kehadiran jasmaniyah saja, dengan ruhaniyah yang sangat tipis.

Diterangkan Shobah kemudian bahwa manusia itu wajar menjadi titik dimana kesalahan dan kelupaan itu berasal. Dikarenakan unsur jasmani dan ruhani yang saling berkaitan inilah hal tersebut ada dalam manusia. Kesalahan itu berkaitan dengan unsur jasmaniyah dan kelupaan itu berkaitan dengan ruhaniyah. Ketika hadir sebuah ketidakfokusan ataupun ketidakkonsentrasian dalam diri manusia maka itulah saat-saat ruhaniyah berkadar tipis.

Shobah menceritakan bahwa Puasa merupakan tradisi kuno umat Manusia. Hal ini sesuai dengan Kama kutiba ‘alal ladzina min qoblikum. Tidak hanya umat Nabi Muhammad SAW saja yang menjalankan ibadah puasa. Diterangkan bahwa Nabi Adam AS melakukan puasa tiga hadir dalam satu bulan pada setiap tahunnya atau bahkan puasa empat puluh hari yang selalu menjadi seperti kewajiban setiap nabi untuk menjalankannya.

Di Jawa sebagai khazanah Islam Nusantara sudah dikenal budaya puasa sejak Islam belum singgah. Seperti yang dilakukan oleh ajaran Bairawa Tantra atau Tantra Bairawa ataupun Tantrayana pada zaman dahulu untuk melakukan upacara keagamaan aliran radikal mereka mewajibkan pengikutnya untuk berpuasa dahulu sebelum meluapkan nafsu pada saat upacara berlangsung. Hal lain juga berkembang pada segi tata bahasa yang mengenal upawasa, dari bahasa sansekerta ini mengartikan sebagai upaya pendekatan diri kepada Tuhan.


Puasa bukan sekedar agenda rutin setiap tahun yang harus dijalankan oleh umat manusia (Islam). Hal ini diwajibkan untuk dijalankan oleh orang-orang yang beriman kuat, dimaksudkan agar antara unsur jasmaniyah dan ruhaniyah memiliki kesimbangan. Seorang khalifah fil ardl merupakan manusia yang antara aspek jasmaniyah maupun ruhaniyahnya seimbang atau dikenal sebagai Avatar dalam agama Hindu. Manusia memiliki prospek untuk berbuat yang liar menggunakan jasmaniyahnya (benda mati) tetapi hal ini harus diimbangi penguatan ruhaniyah sebagai pijakan rem agar tidak liar (Mazdan/Elfaqir).  
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII