Haris Nur 'Ali : "Ibadah Belum Tentu Menjadi Kunci Masuk Surga"

"Ibadah Belum Tentu Menjadi Kunci Masuk Surga"
Yogyakarta, KMNU UII Online  
Ahad (5/7) digelar untuk terakhir kalinya Kajian Ramadhan bersama KMNU UII. Program khusus Ramadhan ini diselenggarakan oleh Divisi Kajian, Dakwah, dan Spiritual (Kadasi). Pada pertemuan terakhir ini, diundang Haris Nur ‘Ali, alumni Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya (FPSB) UII sebagai pemantik kajian sore hari itu.

Disampaikan oleh Haris Nur Ali bilamana Syaikh Ibnu Athoillah As-Sakandary dalam Kitab Hikam bahwa orang itu ada kalanya i’timad atau tetangenan (menggantungkan) dengan amal. Suatu pengharapan dari praktek ubudiyah yang dilakukan oleh seseorang misal orang melakukan sholat berjamaah karena pahalanya 27 derajat atau melakukan ibadah ini agar masuk surga dan lainnya.

Orang yang tetanggenan ini dikelompokkan menjadi dua, ‘Abidun/’Ubad dan Muridun. Seorang ‘Abid melakukan serangkaian amal dengan mengharapkan ingin masuk surga dan merasakan kenikmatanya serta dijauhkan dari azab neraka. Ubad inilah yang menganggap ibadah tersebut sebagai tiket masuk surga. Sedangkan Muridun melakukan amal dengan mengharapkan wusul kepada Allah dan terbukanya hijab dalam hati. Muridun inilah yang tetanggenannya mendekat dengan Allah agar diberikan ridhoNya.

Diceritakan suatu ketika Imam Ghazali menulis kitab, hinggaplah seekor lalat pada kubangan tinta Al Ghazali. Seperti sangat kehausan, Al Ghazali biarkan lalat itu mempuaskan diri meminum tinta sebagai rasa welas asihnya. Singkatnya, ketika Imam Ghazali wafat terdapat sahabat dekat beliau bermimpi yang kemudian terjadilah dialog dengan beliau.

Sahabatnya itu bertanya, ”apa yang telah diperbuat Allah kepadamu hai Al Ghazali? “.

Imam Ghazali menjawab, ”Allah telah menempatkanku di tempat yang paling baik.”

“Karena apakah engkau ditempatkan ditempat yang paling baik itu?” tanya sahabatnya kemudian.

Imam Ghazali menjawab, ”hanya karena pada saat aku menulis aku memberikan kesempatan kepada seekor lalat untuk meminum tintaku karena kehausan. Aku lakukan itu karena aku sayang pada makhluk Allah. “

Imam Ghazali ditempatkan di tempat yang paling baik tersebut bukan dikarenakan amal ibadah ataupun karena kitab yang beliau tuliskan. Tidak ada yang menjamin bahwa segala amal ibadah itu dapat serta merta menjadi tiket masuk surga. Bahkan ketika Syaikh Ibnu Athoillah membagi perjalanan orang menjadi 4 golongan, orang yang bersyukur, orang yang bermaksiat, orang yang taat, dan orang yang kena musibah. Tidak ada yang dapat menjamin keempat golongan tersebut bila baik masuk surga dan buruk masuk neraka.

Orang masuk surga itu semata-mata karena rahmat Allah SWT, bukan atas ibadah semata. Orang yang bersyukur tentu bila ia tidak sombong. Orang yang bermaksiat tentu bila ia kemudian tobat. Orang yang taat bila ia istiqomah. Orang yang terkena musibah bila ia sabar. Tetapi, ibadah merupakan thoriqoh yang membawa orang kepada rahmat Allah SWT. Jadi, jangan tinggalkan ibadah semata-mata untuk mencari rahmat-Nya karena dari ibadah itulah jalan turunnya rahmat.


Bila surga adalah tujuan manusia maka itu salah, karena yang berhak memasukan manusia ke dalam barisan penghuni surga adalah Gusti Allah. Hanya Allah yang pantas menilai manusia dalam taraf tertentu, baik itu tentang kemusliman maupun keimanan. Bukan manusia secara individual yang menilai manusia lain itu masuk surga maupun terjerembab ke neraka. Hal itu semata-mata karena rahmat Allah ta’ala.(Mazdan/Elfaqir)
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII