Dimensi Sosial Ritual Ramadhan

Dimensi Sosial Ritual Ramadhan
Suatu keniscayaan bahwa terjadinya sebuah masyarakat tak terpisahkan dari adanya interaksi antara masing-masing individu yang beraktifitas di dalamnya, sehingga memunculkan adanya beragam kegiatan manusia untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan, karena memang kodrat manusia sebagai hamba Tuhan juga sebagai makhluk sosial yang sama-sama saling membutuhkan satu sama lain. Konsekuensi yang didapat dari interaksi tersebut merupakan dampak sosial yang sering acap kali berdampak positif dan negatif bagi subjeknya. Dampak tersebut juga akan terus berlangsung menurut berjalannya waktu, akan tetapi kecenderungan manusia pada dewasa ini sudah terlalu banyak kepentingan-kepentingan pribadi yang didahulukan sehingga mereka lupa bahwa disamping mereka ada sesama yang sangat membutuhkan uluran tangan untuk berbelas kasihan. Belas kasih tersebut tentunya akan berlaku bagi mereka yang juga merasakan getirnya kekurangan sesama (haus dan lapar), salah satu dari hal yang mampu mengantarkan pada hal mulia tersbeut ialah dengan berpuasa.
Ramadhan merupakan bulan dimana diwajibkan untuk menjalankan puasa bagi setiap muslim. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 183

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Puasa yang dapat diartikan menahan diri, ternyata sangat erat sekali dengan kehidupan sosial manusia. Dengan berpuasa seseorang dapat menumbuhkan dan memupuk kesadaran hidup bermasyarakat, yakni dapat memperhatikan kondisi masyarakat yang perlu cukup sandang, pangan, perumahan, dan lain-lain. Setiap individu akan arif melihat derita orang-orang yang sering kelaparan dan kehausan dalam kehidupan sehari-harinya, ketika dirinya mampu membongkar hikmah dibalik pensyariatan puasa dengan merasakan bagaimana bentuk kesusahan orang-orang yang belum tercukupi kehidupan sehari-harinya melalui puasa tersebut. 
Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi di dalam kitab “Hikmah Al-Tasyri’ wa Falsafatuh” mengatakan:
"Ketika manusia berpuasa dan merasakan pahitnya lapar, maka akan muncul dari dirinya rasa belas kasihan dan kasih sayang terhadap kaum faqir dan miskin, karena mereka tidak mendapati sesuatu berupa kekuatan untuk menjaga jiwa raganya. Dahulu nabi Yusuf As. tidak makan kecuali ketika beliau merasa sangat lapar, hal itu dilakukan untuk mengingat orang-orang faqir msikin dan orang yang membutuhkan”

Pendapat lain mengatakan bahwa nabi Yusuf As. berpuasa untuk memberi kesempatan kepada orang-orang (rakyat) untuk kenyang dan kecukupan pangan, padahal beliau seorang menteri Mesir ketika itu. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain yang dapat diambil hikmahnya.

Puasa Ramadhan dimaksudkan untuk ibadah, kewajiban agama (dari Allah) dan untuk mendapatkan ridha-Nya, tetapi perlu diketahui bahwa di balik pensyariatan puasa juga mengandung nilai-nilai sosial yang sangat arif dan nyata, yakni sebagai ibadah yang berkesan satu rasa dengan perasaan bersama (haus dan lapar), kemanusiaan (dengan belas kasih dan kasih sayangnya), amaliyah kemasyarakatan (dengan kebaikan-kebaikan pada orang lain), ibadah sosial (salah satunya dengan membayar zakat), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Larangan berkata kotor atau menyakiti hati orang lain, berbuat kejahatan yang merugikan orang lain, bertengkar dan berbuat keributan dan kekacauan, berdusta atau menipu orang lain dan sebagainya dalam keadaan puasa, semua itu meriupakan nilai-nilai yang bersifat sosial kemasyarakatan yang tinggi serta dapat diambil dari hikmah-hikmah puasa.

 Penulis:  Achmad Nur Shobah, SHI (MPO KMNU)
             


Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII