Ari Nasichuddin : "KMNU hadir sebagai corak intelektual keidiologian"

Ari Nasichuddin : "KMNU hadir sebagai corak intelektual keidiologian"
Yogyakarta, KMNU UII Online
Minggu (21/6), Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Islam Indonesia (KMNU UII) kembali menggelar tikar untuk melaksanakan Kajian Ramadhan. Kegiatan ini merupakan kali kedua untuk serangkaian yang dilakukan oleh Divisi Kajian, Dakwah, dan Spiritual (Kadasi). Kali ini, pemantik yang dihadirkan adalah Moch. Ari Nasichudin, mantan Pemimpin Umum (PU) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) HIMMAH UII.

Dalam kajian ini, Ari, sapaan akrab pemantik mengusung tema general Aswaja (Ahlussunah Wal Jamaah). Menurutnya, terlahirnya pemikiran Aswaja berawal dari perbedaan pendapat pada masa kekhalifahan Sayyidina Ali bin Abi Tholib yang melahirkan tiga kubu yakni Kubu Ali (Syi’ah), Khawarij, dan Kubu Mu’awiyah. Pada masa selanjutnya melahirkan pemikiran konsepsi Jabariyah, Qodariyah, dan Mu’tazilah, beberapa pemikiran yang saling bertentangan.

Munculnya Abul Hasan Al Asy’ari merupakan pemikiran fundamental mengenai perkembangan paham Aswaja. Mantan tokoh Mu’tazilah ini mengusung pola pemikiran melalui jalan damai atau jalan tengah. Bagaimanapun juga konsep pemikiran Jabariyah, Qodariyah, dan Mu’tazilah banyak tidak dapat diterima secara mudah oleh masyarakat Islam. Keberadaan jalan tengah inilah yang kemudian membuat kedinamisan di masyarakat Islam.

Berangkat dari pernah dianutnya paham Mu’tazilah pada masa Dinasti Abbasiyah maka suatu pemerintahan memiliki peran besar dalam kepengaruhan terhadap penyebaran suatu pemahaman. Terlebih negara mempunyai peran penting untuk mampu mengakomodasikan fasilitas publik yang menjadi kebutuhan masyarakat luas. Aswaja menjadi titik tengah dimana pemaksaan ideologi terhadap masyarakat, sehingga kemudian berdampak baik bagi perkembangan Aswaja.

Ditambahkan oleh Mazdan Maftukha bahwa konsep pemikiran Aswaja yang merupakan konsepsi titik tengah maka keberadaan Aswaja tersebut ibarat sebuah neraca. Pengembangan pemikiran Aswaja juga memperhatikan keseimbangan antara cara berpikir secara rasional dengan sifat-sifat spiritualitas. Disebutkan oleh Mazdan bahwa tokoh-tokoh Aswaja yang terkenal merupakan tokoh yang dari segi pemikiran itu adalah jempolan dan dari segi spiritualitas merupakan panutan.

Bahkan menurut pandangan Ari mengenai Puasa, Aswaja mempunyai pemikiran bahwa manusia secara sosial memerlukan proses mensakralkan diri, mensucikan diri, dan mengintrospeksikan diri tentang idealisme yang dianut. Dimana manusia juga harus dituntut care terhadap manusia yang lain. “Puasa sebagai mekanisme yang diberikan Tuhan agar manusia lebih care terhadap manusia yang lain,” ujar Ari,


Harapan Ari bahwa KMNU hadir sebagai corak intelektual keidiologian. Membawa golongan sebagai corak intelektualitas dalam pemikiran mahasiswa. Mahasiswa harus dapat melihat suatu permasalahan secara dinamis (berimbang). Artinya KMNU mempunyai ciri sebagai mahasiswa yang terbuka terhadap suatu permasalahan. Tidak mudah untuk melihat permasalahan dengan sudut pandang yang sempit dan kaku.(Mazdan/Elfaqir)
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII