Aldino : "KMNU Sebagai Benteng dengan Semangat Wali Songo"

Aldino : "KMNU Sebagai Benteng dengan Semangat Wali Songo"
KMNU UII Online – Kajian Ramadhan merupakan program khusus Ramadhan dari Divisi Kajian, Dakwah, dan Spiritual (Kadasi) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Islam Indonesia (KMNU UII). Tujuan diadakannya kajian ini adalah sebagai pembentengan pemahaman mahasiswa dari nilai-nilai radikalisme dalam Islam, terutama di lingkungan kampus UII.

Sabtu (20/6), kali pertama digelar Kajian Ramadhan ini dipematiki oleh Aldino Deanasa, lulusan Fakultas Hukum UII. Aldino memulai kajian dengan membawa permasalahan pelanggaman jawa dan penghapusan gelar khalifah pada Sultan Hamengkubuwono X. Hal ini membawa unsur kefaktoran simbolisasi Islam yang dikenalkan oleh Walisongo maupun dari Keraton Islam di Jawa.
Diungkapkan oleh Aldino bahwa masyarakat Jawa sebelum periode agamaisasi datang sebetulnya telah memeluk kepercayaan Kapitayan. Sebuah ajaran yang mempunyai sifat ketuhanan yang tidak dapat digambarkan secara gamblang. Dengan pembawaan kata “Tu”, semua hal yang mempunyai kata “Tu” sebagian besar akan berkaitan dengan hal-hal Ketuhanan.
Ajaran Budha maupun Hindu masuk di Jawa dengan ajaran filsafat yang juga mengembangkan pola-pola Kapitayan. Disebutkan Borobudur dengan stupa terunggulnya menggambarkan sifat ketuhanan yang dianut oleh Kapitayan. Berikut juga dengan Hindu, bahkan hingga muculnya aliran radikal yang bernama Tantra Bairawa atau Tantrayana.

Periode Walisongo diawali dengan penyebaran kaum pedagang, namun kemudian dilibatkan para ulama yang unggul sebagai pendakwah Islam di tanah Jawa. Hal ini berkaitan dengan sistem pengkastaan yang akan tidak dianggapnya pedagang menebarkan suatu ajaran keagamaan tetapi hanya kaum brahmana (ulama) yang pantas mengantarkan ajaran agama. Walisongo berhasil mendakwahkan ajaran dan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan yang fundamental di masyarakat Jawa. Mulai dari Sekaten (Syahadatain), Gapura (Ghafura), Kungkum (Thoharoh) hingga konsep Sembahyang (Sholat).

Keberadaan konsep pemerintahan yang Islam menggunakan keraton menyebabkan massifnya penyebaran Islam di Jawa. Dilihat dari gelar sultannya saja telah dapat diartikan bahwa simbol Islam itu sangat kental dalam pemerintahan di Jawa. Penerapan “Khalifatullah di Tanah Jawa” merupakan legalisasi kepemimpinan yang bercorak Islam di Tanah Jawa. Selain itu juga didukung oleh para Ulama yang tergabung dalam Majelis Walisongo.

Hal-hal di atas merupakan logika fundamental dari Islam yang Nusantara. Bukan berarti Islamnya dibawa ke dalam corak kenusantaraan, tetapi penerapan Syariat Islam yang baik dan bijak untuk diakomodasi oleh budaya yang telah berkembang di Indonesia. Hal ini dikuatkan dengan “Arab digarap, Jowo digowo”-nya para Walisongo.


Adanya KMNU di kampus merupakan langkah baik, menurut Aldino. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran mahasiswa yang mendalami Islam secara instan dan mengadopsi pemahaman dari luar Indonesia untuk diterapkan di Indonesia. KMNU di kampus merupakan sebuah benteng yang akan mengakomodasikan mahasiswa yang mempunyai semangat seperti Walisongo. Jauh berpikir ke depan untuk kemaslahatan umat Islam di Indonesia. (Mazdan/ Elfaqir)
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII