Sandal yang Tertukar

Malam itu, seperti biasanya kami menjalankan rutinitas pondok yang tertib. Adzan Maghrib terdengar dari langgar, tanda kami harus segera bergegas menuju kesana. Telat sedikit saja, bisa rotan sebagai imbalan kami. Berlari kecil sambil 'mencincing' sarung yang selalu 'ngeper'. Setelah prosesi jamaah maghrib ini selesai, setoran Al Quran harus diantrikan pada mudaris yang telah berjejer rapi. Bapak hanya menerima setoran dari santri tingkat senior, beberapa saja, tidak banyak. Sehingga, Bapak selalu turun dari Langgar paling cepat.
Yazin, teman sekamar itu, sebelum menyetorkan hafalannya ke mudaris langsung saja keluar langgar dan bergegas entah kemana. Dia tidak kunjung kembali hingga ngaji selepas isya selesai. Tidak biasanya, dia seperti itu. Tidak ada pengurus yang kemudian menegur tingkah Yazin. Entah kenapa. Aku tetap konsen pada rutinitas ini.
Malam semakin beranjak dingin ketika semua santri kamar berkumpul untuk bersiap tidur. "Kang, nyapo medun Langgar kok durung nyetor?" tanya Kang Azka sebelum tidur. Sontak saja, Yazin yang tadi belum setoran menjawab, "Gak po, durung ngapalno aku Kang." Oh ya sudah, pikirku. "Oh yo wes Kang," tanggapan Kang Azka kemudian. Setelah itu, hening dan mimpi membawaku menembus pikiran.
Subuh membangunkan kami semua. Kembali ke rutinitas seperti biasanya. 'Jeding' mulai penuh dengan santri yang antri. Sedangkan 'Kolah' masih menjadi kawasan anger karena dinginnya air. Hanya sedikit saja di Kolah untuk berwudhu, dan aku berada di situ juga.Sholat subuh ditegakkan dan selesai dengan ngaji pagi. Namun,tidak biasanya Bapak hanya sedikit membacakan kitab tersebut. Kami pun berebut keluar dari Langgar.
"Doh, sandalku dighosob sopo yo?" tanya Yazin dengan panik. Bahkan hingga langgar tersebut sepi, Yazin masih semanat mencari sendalnya. Hingga akhirnya pencarian dipertemukan di depan 'Ndalem'. "Nah, iki," responnya ketika menemuka sendalnya. Yazin kemudian memakainya di kedua kakinya yang sebelumnya bertelanjang saja.
"Zin!" panggil seseorang dari dalam Ndalem. Sontak saja, Yazin kaget, bahkan terlonjak. "Njih Pak," jawab Yazin kemudian.
"Budal gak setoran entuk sandal apik tah? Iyo tah?" tanya Bapak, ternyata,
Yazin hanya terdiam seribu bahasa.
"Zin!" Bapak meneruskan. "Awakmu, gak setoran, bolosan, ghosob pisan. Takzir opo sek pantes?"
Yazin diam saja.
"Wes kene! Sendalmu endi?" tanya Bapak menanyakan sendal Yazin.
Yazin segera melepaskan sandal itu dari kedua kakinya dan menyerahkannya kepada Bapak.
"Jeding kebaki banyu, nek wes mari, bali mrene," perintah Bapak.
Yazin, dengan sikap diam itu lantas saja 'unuk-unuk' menuju jeding untuk melihat keadaan airnya, sebelum ia harus mengangkut ember-ember berisi air untuk memenuhinya. Dengan langkah yang diimbangi tapa bisu, Yazin bergerak secara cepat memenuhi jeding-jeding yang airnya surut. Mungkin beberapa kali bolak dan balik Yazin akan menyelesaikan Takzirannya.
Matahari masih bersinar menyilaukan, tanda siang belum akan datang secara cepat. Yazin sudah menyelesaikan takzirannya untuk membludakkan jeding-jeding tersebut. Ia pun kembali ke Ndalem untuk laporan. "Uwes le lehmu ngebaki jeding?" tanya Bapak. Yazin menjawabnya dengan singkat saja, "Sampun."
"Wes, balik kamar, sandalku digowo karo dinggo," pesan Bapak selanjutnya.
Sandal Bapak itu kemudian dikenakan Yazin. Persis seperti sandal yang berada di depan kamar malam tadi. Tidak habis pikir aku kemarin malam, bagaimana Bapak bisa tahu sandal beliau ada di depan kamar dan yang mengambil itu Yazin. Ah sudahlah, Yazin sekarang sudah tidur di kasurnya. Kang Azka sudah tiduran pula, meski masih bertahan menghafalkan Alfiyah setoran besok malam. Hoahm, aku sudah tidak tahan untuk bertahan dari kesadaran. Baiknya aku tidur.
Allahumma ahya wa bismika amut

oleh : Mazdan Maftukha (Fak. Hukum UII-KMNU UII)
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII