Perjalanan 7 Lapisan Langit (Langit Keempat)

Langit yang berhiaskan perak keputih-putihan. Dinamakan sebagai az-zahirah. Pintu langit itu terbuka saat Nabi SAW dan Jibril as mengucapkan salam, penghuninya pun menjawab salam mereka. Terlihat keajaiban-keajaiban dari Sang Maha salah satunya yaitu malaikat. Didalam langit tersebut terlihat seorang pemuda yang wajahnya terdapat cahaya yang cemerlang dan hati yang khusyu’. Nabi SAW bertanya,

“Siapakah ini wahai Jibril?”

Jibril menjawab, “ Ini saudaramu as. Allah telah mengangkatnya ke derajat yang lebih tinggi. Mendekatlah dan ucapkanlah salam padanya..”

Nabi SAW pun mengucapkan salam begitupun Nabi Idris as menjawab salam beliau dan memintakan ampun untuk beliau dan umatnya. Kemudian Nabi melanjutkan perjalanan, terlihat malaikat yang besar bentuk penciptaannya. Kedua kakinya mencapai batasan bumi yang ketujuh dan kepalanya hingga sampai dibawah Arsy. Ia duduk diatas kursi yang terbuat dari cahaya sedang ia dikelilingi malaikat. Mereka semua menunggu perintah Allah SWT. Disebelah kanannya terdapat lembaran dan disebelah kirinya terdapat pohon yang sangat besar. Hanya saja malaikat yang satu ini tak pernah tertawa. Seketika Nabi SAW pun bertanya,

“Siapakah ini Yaa Jibril?”

“Ia adalah pemusnah kelezatan, pemisah jama’ah, penghancur rumah dan jalan-jalan, pembangun kubur, penyebab anak-anak menjadi anak yatim, penyebab istri-istri menjadi janda, penyebab penderitaan bagi para kekasih, penutup pintu, pembuat ratapan-ratapan kesedihan, pencabut anak-anak muda. Dialah Izrail Yaa Muhammad.. malaikat kematian yang Allah janjikan. Dia dan malaikat penjaga neraka tidak akan tertawa selamanya” jelas Jibril “sampaikanlah salam padanya..”. Nabi SAW pun mengucapkan salam dan Izrail pun menjawabnya.

“Bagaimana engkau mencabut arwah para manusia sedangkan posisimu disini?” Nabi lanjut bertanya.

Izrail menjawab, ‘Inilah posisi yang Allah berikan dari dulu hingga akhir kiamat kepadaku. Sungguh kuasa Allah menjadikanku seperti ini, memberikan kuasa untuk menyebarkan malaikat sebanyak 5000 malaikat. Maka apabila seorang hamba telah sampai pada ajalnya, sudah terpenuhi rezekinya dan sudah selesai masa hidupnya maka aku utus pada orang itu 40 malaikat yang semuanya ditugaskan untuk mengurusi arwahnya dengan mencabut urat nadi, saraf, daging dan aliran darahnya. Malaikat itu pun mencabut dari ujung kuku-kuku hingga sampai ke lutut kemudian dihentikan sejenak. Seterusnya mereka mencabutnya hingga ke pusar kemudian dihentikan sejenak. Melanjutkan kembali mencabut nyawa hingga ke kerongkongan sehingga ia jatuh sekarat. Lalu akan kucabut nyawanya seperti ibarat mengambil rambut pada adonan. Saat jasad dan arwah terpisah ata akan terbelalak melotot menguak menjadi beku karena mata akan mengikuti perginya nyawa tersebut. Disana aku akan menggenggam nyawa tersebut dengan salah satu dari dua tombakku yaitu yang terbuat dari cahaya dan tombak yang terbuat dari api amarah. Saat arwah baik akan kugenggam dan diantarkan ke ‘Iliyyin sedangkan arwah buruk akan kugenggam dan kuhantarkan ke Sijjin (sebuah batu yang teramat hitam yang berada dibawah bumi lapisan langit ketujuh dimana disana tempat orang-orang kafir dan orang-orang berdosa)”.

                “Bagaimana engkau tahu bahwa umur seorang hamba sudah dekat?” lanjut Nabi bertanya.
Izrail berkata, “ Yaa Muhammad, ketahuilah bahwa seorang hamba itu hanya memiliki dua pintu dilangit, pintu untuk turunnya rezeki dan pintu untuk naiknya amal seorang hamba tersebut. Adapun pohon disebelah kiriku ini di setiap daun-daunnya tertulis nama-nama bani Adam baik laki-laki aupun perempuan. Ketika ajal mendekat daun tersebut akan menguning dan gugur mengenai pintu turunnya rezeki sehingga namanya akan menghitam di atas Lauhil Mahfudz. Pada saat itulah ia sedang digenggam, lalu aku melihatnya. Karena saking takutnya badannya gemetar dan hatinya berdegup kencang sehingga membuatnya jatuh terlentang. Aku pun mengutus 40 malaikat padanya sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi, “... sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang diantaramu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami dan malaikat-malaikat kami tidak melalaikan kewajibanny.” (QS. Al An’am : 61)
                 Banyak yang ingin Nabi ketahui dari sosok malaikat ini diantaranya ingin melihat bentuk saat ia diciptakan Allah SWt dan saat menggenggam arwah-arwah para hamba. “engkau takkan sanggup memandangku yaa Muhammad..”, begitulah malaikat Izrail berkata.
“ jangan menentang kemauan kekasihku Muhammad” terdengar teguran dari Allah SWT. Maka saat itu pula Izrail menampakkan bentuknya saat menggenggam arwah-arwah. Nabi SAW bersabda :
“Tatkala malaikat maut memandangku, aku mendapati dunia berada dalam genggaman diantara dua tangannya ibarat uang dirham yang berada ditangan salah seorang diantara kalian, dimana ia bisa membolak-balikkan dengan semaunya. Saat itulah hatiku berdegup kencang dan gemetar karenanya”.
Saat itulah malaikat Jibril meletakkan tangannya di dada Nabi, menentramkan dan mengembalikan jiwa dan kesadaran beliau. Kemudian malaikat Jibril dan Nabi SAW meninggalkan malaikat Izrail dan melanjutkan perjalanan menyusuri langit keempat ini. Tiba-tiba terlihat sesosok laki-laki yang wajahnya bersinar dan berambut lebat, ia melihat Nabi dan tersenyum. Nabi kembali menanyakan sosok ini pada malaikat Jibril, “Wahai saudaraku, siapakah ia?”
“Ia adalah ayahmu Ibrahim khalilullah, mendekat dan ucapkanlah salam padanya” sahut Jibril. Maka Nabi pun mendekat dan mengucapkan salam padanya, ia pun menjawab, “Selamat datang wahai putra yang shaleh. Bergembiralah wahai Muhammad sesungguhnya kebaikan ada padamu dan pada umatmu hingga akhir kiamat. Sesungguhnya saudaramu Jibril mengangkatmu kepada Allah untuk memilihmu dan memuliakanmu.” Jawab jibril

 “Sedang apa engkau duduk-duduk disini?” tanya Nabi pada Ibrahim

Ibrahim berkata, “ Aku sedang melihat amalan-amalan para hamba yang tidak ada yang lebih indah, lebih cemerlang, lebih syahdu, lebih suci dari seorang yang berucap Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah  sehingga hatiku tenang dan memuji pada Allah SWT”.

“Majulah wahai saudaraku Yaa Muhammad, lakukanlah shalat bersama Ibrahim as dan para malaikat” perintah Jibril pada Nabi. Kemudian Nabi pun melakukan shalat bersama Nabi Ibrahim as dan para malaikat. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menembus langit selanjutnya dengan cepat melebihi kedipan mata dimana jarak antara langit keempat dengan kelima adalah 500 tahun perjalanan begitupun dengan ketebalan langit itu.(Widiaturrahmi-KMNU UII)

bersambung-[Langit kelima]




Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII