Mengingat Nikmat dengan Syukur


Manusia sebagai kodratnya, memang rasa syukur harus hadir dalam hatinya. Karena bagaimanapun juga, syukur adalah salah satu cara untuk menghindari rasa ujub. Rasa yang kemudian hadir dalam suka dan menjadikannya kesombongan, entah dalam hal apapun juga. Hal itu dapat berupa hal yang sifatnya lahiriyah maupun batiniyah.

Manusia tercipta tidak seperti ketika manusia menciptakan suatu ciptaan. Suatu bentuk yang tercipta tentu memiliki tautan dengan 'wadah' yang diciptakan. Lantas, dari loyang manakah bentuk manusia itu berasal? Dapur arsy manakah yang terdapat loyang berbentuk manusia? Bukankah itu hal yang aneh. Ya, hal itu aneh.

Bagaimana mendasarinya? Dengan rasa syukurlah yang dapat menjembatani keanehan tersebut. Hal lainnya yang patut untuk disyukuri adalah sebuah perbedaan yang dilahirkan. Sejatinya karena manusia memang tidak memiliki loyang yang khusus maka itulah keistimewaan manusia. Dengan tercipta berbeda, maka syukur atas perbedaan adalah hal yang perlu untuk dilakukan.

Sistem perkembangbiakan manusia yang begitu rupa menjadikan sebuah rasa syukur tersendiri. Dari hasil itulah, seorang manusia dan sebuah perbedaan pasti akan terlahir. Bagaimanakah membayangkan, sistem perkembangbiakan yang terjadi pada hewan wereng? Kakek-cucu mana bedanya, Bapak anak masa sama rupa? Syukur mana lagi yang akan engkau dustakan? Karena ada perbedaan itulah yang menjadikan manusia sebagai makhluk Tuhan yang aneh dan istimewa.

Sumber : KH Achmad Burhani Asyahidi dalam Ngaji Pondok dan Al Habib
Musthofa Sayyidi Baraqbah dalam Haul Kyai Ageng Getas Pendowo

Oleh : Mazdan Maftukha Assyayuti (Khodimul KMNU UII)
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII