Ma'had Bani Umar - Subuh Menjelang Ujian Pondok

Pagi itu jam menunjukan pukul 04.30. Adzan Maghrib di Masjid Aisyah Pondok Pesantren Darul ‘Ulum berkumandang. Selang beberapa lama dari arah ndalem terdengar suara bengkiak. Klothak..klothak.. begitulah bunyinya. Dengan mata masih sedikit mengantuk aku bangun dari tidur ‘singkat’ku. Yaa aku baru tidur jam 02.00. Hal itu mungkin sudah menjadi hal yang jamak dikalangan pesantren, tidur larut malam dan bangun pagi – pagi sekali. Tidak heran jika paginya kami para santri – santri masih digelayuti rasa kantuk yang tak tertahankan.
            Pagi itu adalah hari dimana kami akan mengikuti ujian pondok. Ujian pondok ialah salah satu syarat kelulusan bagi santri Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang untuk mengakhiri studinya. Ujian dilaksanakan ketika santriwan dan santriwati sudah berada di kelas 3. Bagiku, ini adalah ujian pondok kedua bagiku. Karena sebelumnya aku sudah pernah menempuhnya sewaktu masih duduk dibangku SMP. Kini aku mengulangnya diwaktu SMK.
            Brak..Brak..!! terdengar suara pintu hasil gebrakan gus Iqbal. Beliau lah ayah kami selama disini. Bernama lengkap KH. Muhamad Iqbal Hasyim, adalah putra dari KH. Hasyim Umar. Sudah hampir 6 tahun aku dididik oleh beliau. Banyak sekali ilmu dan mauidhotul hasanah yang beliau katakan kepada kami. Dan semoga itu semua dapat kami manfaatkan ketika kami sudah terjun dimasyarakat nanti.
            Aku beranjak dari kasur lusuh yang nikmat berjalan menuju tempat wudlu. Kamarku berada di Lantai 2. Biasa di sebut kamar 3 atau kamar pengurus. Kenapa kamar pengurus ? karena hampir semua yang berada di kamar tersebut semuanya pengurus. Mulai dari Ketua Asrama sampai jabatan yang dibawahnya seperti staff keamanan, kebersihan, dan pengajian. Asrama kami bernama Bani Umar, nama Bani Umar diambil dari keluarga besar KH. Umar Tamim yaitu keluarga gus Iqbal. Banyak sekali perubahan di asrama ini. Dulu sewaktu aku masih SMP hanya 6 kamar yang ada di sini, sekarang ada 12 kamar. Dulu santrinya masih sekitar puluhan, namun sekarang sudah mencapai ratusan bahkan hampir 2 ratusan.
Asrama kami berada kurang lebih disebelah barat daya pondok pesantren Darul ‘Ulum Jombang. Asrama ini sudah berdiri sejak awal tahun 2000an. Aula berada dibagian tengah asrama. Berukuran sekitar 4x8 meter, pastinya tidak akan cukup menampung hampir 200 orang santri. Sehingga banyak santri yang mengikuti sholat berjama’ah sampai tumpah memenuhi selasar aula dan didepan  kamarnya.
Setelah mengambil air wudlu kupakai perlengkapan sholat dengan membawa kitab shorof aku turun ke aula untuk sholat jama’ah bersama.  Sembari menunggu  kiai datang untuk memimpin sholat berjama’ah. Santri melantunkan pujian-pujian terhadap Allah SWT dan Rasulnya. Suasana ketika subuh sangat dingin dan kantuk amat menggelayuti. Sehingga tak jarang melihat santri bersandar ditembok dengan kepala terkantuk-kantuk.
            Kitab shorof sudah sejak dari dulu menjadi panutan dalam mengambil rujukan ilmu shorof, di berbagi pondok di Indonesia. Begitu pula dengan kami, sudah menjadi rutinitas sehabis sholat subuh berjama’ah, para santri Bani Umar melafalkan nadhom – nadhom dari kitab shorof ini. Hal ini bertujuan agar kita lebih mudah dalam menghafalkan isi dari kitab tersebut.
            Setiap sehabis sholat subuh gus Iqbal memberikan mauidhotul hasanahnya pada kami yang akan mengikuti ujian pondok. Isi nasihatnya antara lain agar tetap berdo’a dalam mengikuti ujian nanti, minta restu orang tua dan guru, banyak – banyak ziarah ke pesarean poro kiai. Kegiatan mauidhotul hasanah seperti ini sering dilakukan setelah sholat berjama’ah. Baik itu diwaktu subuh maupun maghrib. Ini sebagai bentuk perhatian kiai ke santri didiknya. Tak jarang kamipun sangat tercerahkan dengan mauidhotul hasanah yang diberi oleh beliau.
 Setelah menerima nasihat dari gus Iqbal, kami beranjak ke kamar kami masing – masing untuk mengambil sandal dan yasin. Kami sepakat untuk bersama – sama pergi kepesarean guna meminta restu poro kiai yang sudah sumarih. Jika tak ada sandal atau lebih tepatnya sandalnya hilang, kami pun rela berangkat tanpa alas kaki atau biasa disebut nyeker.
Udara sejuk dihari sangat menyejukan. Lantunan ayat suci al-qur’an yang terdengar ketika kami keluar dari asrama sangat menyejukan kalbu. Suasana seperti ini hampir jarang didengar di luar kawasan pondok. Apalagi yang jauh dari masjid.
            Ayat suci Al-qur’an dan tahlil menghiasi pesarean waktu itu. Banyak santri yang berdatangan kesini. Maklum karena tidak hanya asrama Bani Umar saja yang datang kesini untuk mencari do’a restu kepada para kiai yang telah sumarih. Dengan dipimpin ketua asrama kami memulai do’a – do’a kami. Dengan membaca surat Yasin, Tahlil dan Istighosah kami memohon kepada Allah SWT untuk diberi kemudahan dalam mengikuti ujian pondok nanti. Amien ...(Moch.Ari Nasichuddin)

Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII