KMNU Aristokrat Mahasiswa NU


Oleh Achmad Faiz MN Abdalla*
Malam itu (13/5), kedatangan kami berdua sangat ditunggu oleh Kang Madun, Pemred Majalah Bangkit PWNU DIY. Saya datang dengan teman saya, Ulin Nuha. Beberapa kali Kang Madun menghubungi saya, menanyakan, kapan berkunjung ke rumahnya, membahas follow up Sekolah Kepenulisan KMNU DIY lalu. Berhubung saat itu masih UTS, saya janjikan selesai UTS. Alhamdulillah, malam itu saya tepati janji saya.

Sejak pertama kali menghadap ke redaksi Bangkit PWNU DIY, matur perihal Sekolah Kepenulisan KMNU, saya merasakan apresiasi yang luar biasa dari pihak Bangkit, terutama dari Kang Madun dan sang istri, Mbak Muyas. Sejak perkenalan kami itu, saya banyak berdiskusi tentang kepenulisan dengan keduanya. Mereka berdua sangat mendukung siapapun yang antusias menulis. Siapapun orangnya, terlebih orang NU, untuk masa depan NU.

Saat menyampaikan rencana KMNU menggandeng Bangkit dalam sekolah kepenulisan, saya katakan, kegiatan tersebut pertama kali diadakan oleh KMNU dengan melibatkan tiga KMNU di DIY sekaligus. Oleh karenanya, saya memohon kepada mereka agar kami dibimbing dan dituntun. Alhamdulillah, melebihi sekedar dituntun dan dibimbing, saat ini kami sudah menjadi bagian dari keluarga Bangkit sendiri. Ini penting, karena KMNU DIY memerlukan perantara untuk tersambung ke PWNU DIY dan organ struktur lain di bawahnya. Dalam hal ini, kita tentu harus berterima kasih kepada Bangkit karena sudah menginisiasi keperantaraan tersebut.

Harus saya tegaskan kembali, kerjasama antara Bangkit dengan KMNU DIY bukanlah sekedar kerjasama temporer dengan terselenggaranya sekolah kepenulisan, 19-26 April lalu. Bukan sekedar kerjasama keperdataan. Namun jauh dari itu, kerjasama tersebut merupakan kontrak abadi antara Bangkit dan KMNU DIY untuk bersama menggairahkan media-media NU dalam rangka kebaikan dan kemanfaatan bagi NU. Kegairahan media NU sebagai tujuan species, kebaikan dan kemanfaatan NU sebagai tujuan genus !

Tidak berhenti dari Bangkit, dukungan untuk berkarya pun mengalir dari NU Online kepada KMNU. Beberapa hari lalu Mas Khoirul Anam turut memberikan dukungan tersebut. Saat tulisan saya dimuat di NU Online, Mas Anam menelpon saya dan menyampaikan dukungannya kepada KMNU untuk selalu menulis, berkarya, dan turut mewarnai media-media NU.

Bila dukungan sudah mengalir, sekarang menjadi tugas KMNU untuk menjawabnya!

Mengulas Sistem Kaderisasi Kyai Ali Maksum

Di ruang tamu malam itu, Saya, Ulin Nuha, dan Kang Madun duduk lesehan. Rumah Kang Madun memang bersuasana santri. Tanpa kursi, hanya lesehan biasa. Tampak Majalah Bangkit edisi terbaru tertumpuk rapi menyandar ke sisi dinding dalam. Seperti biasanya, Kang Madun mengulas isi majalah terbarunya, sebagai pengantar. Nampaknya, Kang Madun semakin semangat ngopeni Bangkit.

Kami berdua disugihi banyak makanan, sekedar mengisi perut kami sebelum membahas banyak hal untuk masa depan kepenulisan KMNU DIY dan Majalah Bangkit. Ulin Nuha yang datang malam itu untuk pertama kali, langsung mencair dengan Kang Madun. Kebetulan mereka berdua sama-sama dari desa. Kang Madun berasal dari Pati, sedangkan Ulin berasal dari Rembang. Keduanya berdekatan, memudahkan segera akrab. Ulin Nuha tanpa sungkan menghabiskan makanan di depannya.

Selesai mengulas Bangkitnya, Kang Madun mengajak kami kesana kemari membahas banyak hal, terutama perkembangan NU. Mulai dari membahas suasana NU jelang muktamar, membahas tulisan Kang Madun tentang sistem kaderisasi Kyai Ali Maksum, sampai membahas masa depan KMNU sendiri, khususnya keberlanjutan sekolah kepenulisan KMNU DIY lalu.

Tentang sistem kaderisasi dalam tubuh NU, Kang Madun mengenang bagaimana keulungan Gus Dur dalam mengkader tokoh-tokoh hebat sekaliber alm. Pak Fajrul Falaakh, Kyai Masdar F Mas’udi dan Kyai Hasyim Muzadi. Meski kemudian yang terpilih menggantikan Gus Dur di PBNU adalah Kyai Hasyim, namun menurutnya, ketiga tokoh tersebut merupakan tokoh-tokoh yang layak memimpin NU. Munculnya ketiga nama tersebut merupakan bukti bahwa Gus Dur telah mempersiapkan seksesornya dengan baik.

“Meski akhirnya kyai Hasyim yang terpilih, tapi ketiga tokoh tersebut sama layak,” tegasnya

Menurutnya, Gus Dur adalah seorang pengkader yang ulung. Ia membandingkan dengan kepemimpinan NU pasca Gus Dur yang relatif kurang berhasil mengikuti pencapaian Gus Dur dalam hal kaderisasi.

“Sayangnya, sistem kaderisasi Gus Dur tidak berlaku untuk semua orang NU. Sistem tersebut hanya cocok untuk orang-orang NU tertentu, terutama anak-anak kyai yang memang sudah ‘sakti’ dari bibitnya,” tambah Kang Madun

Ia lalu membandingkan sistem kaderisasi Gus Dur dengan sistem kaderisasi Kyai Ali Maksum Krapyak. Meski harus diakui keduanya merupakan pengkader ulung, namun menurut Kang Madun, sistem Kyai Ali Maksum relatif lebih dapat diterapkan kepada semua santri NU.

Konon, Kyai Ali Maksum merupakan penengah bagi santrinya ketika santrinya berada di antara teori yang idealistis-abstrak dengan persoalan empiris-konkret yang terjadi di masyarakat. Seringkali, santri atau mahasiswa NU terkejut saat melihat kesenjangan antara apa yang mereka dapatkan di bangku kuliah atau di pesantren dengan realita empiris yang terjadi di masyarakat. Dalam proses kaderisasi, kesenjangan tersebut harus dapat dijembatani sehingga melahirkan produk-produk kader yang mampu menjawab persoalan-persoalan masyarakat yang berkembang seiring dengan tantangan zaman.

Mengutip tulisan Kang Madun di kolom NU Online beberapa hari lalu:

“Dalam konteks PMII, Kiai Ali Maksum mempersilahkan santrinya mendirikan Komisariat PMII di Pesantren Krapyak. Bukan hanya berdiskusi dan berdebat, santrinya yang di PMII mempunyai wadah bernama Kodama (Korp Dakwah Mahasiswa), yang selalu terjun di masyarakat memberikan pengajian. Masjid dan musola dipenuhi santri PMII Krapyak, sehingga PMII bukan saja hadir dalam diskusi (juga demonstrasi), tetapi kesehariannya justru hadir di masjid, musolla, dan majlis taklim. Kaderisasi harus dibangun untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan kader yang ada hari ini dalam menjawab berbagai problem global. Juga memikirkan kader-kader ulama’ yang siap meneruskan perjuangan para ulama.”

Jadi, ketika mahasiswa selesai berdiskusi di forum kuliah, mereka segera terjun ke masyarakat, membawa apa yang mereka dapatkan dari forum kuliah. Dari masyarakat, mahasiswa lalu membawa persoalan untuk kembali didiskusikan di forum kuliah. Di sanalah mahasiswa memiliki tugas penting untuk menyelaraskan unsur sollen dan unsur sein persoalan empiris yang terjadi di tengah masyarakat, lalu Kyai Ali hadir menjadi penengah dan membimbing santrinya di tengah persimpangan tersebut.

Sistem tersebut terbukti mampu melahirkan santri-santri NU yang mampu menyelaraskan unsur idealita dan unsur realita; mampu mencetak santri-santri NU yang dengan keilmuannya menjawab persoalan-persoalan empiris di masyarakat. Strategi inilah yang digunakan Kiai Ali untuk mendidik KH Mustofa Bisri, almarhum KH Kholil Bisri, KH Said Aqil Siraj, KH Malik Madany, KH Aziz Masyhuri Denanyar, almarhum KH Masduqi Mahfudz, termasuk juga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).  

“Maka, KMNU harus menggali kembali nilai dan semangat yang telah dibangun oleh kyai-kyai tersebut,” pesannya

KMNU, Aristokrat Mahasiswa NU

Kang Madun terkejut ketika hadir dalam pembukaan sekolah kepenulisan lalu. Ia terheran dengan seremoni pembukaan yang menurutnya sangat menjunjung nilai-nilai pesantren. Hal mana sudah tidak ia temukan di tempat mahasiswa NU lain, atau setidaknya telah bergeser, atau berkurang.

Ia merasa sungkan ketika melihat semua panitia dan peserta sekolah kepenulisan berpakaian rapi, dengan tetap menyisakan kesan sederhana ala pesantren. Sebaliknya, beberapa kru dari Bangkit terlihat memakai kaos oblong seadanya. Nampaknya, sebagian mengira bahwa KMNU seperti tempat lain.

Melihat bagaimana kader-kader KMNU berpakaian dan bertata-krama, sampailah ia pada kesimpulan bahwa KMNU merupakan kaum artistokrat mahasiswa NU. Kesimpulan dan istilah tersebut mungkin berlebihan, atau terlalu prematur untuk dialamatkan. Namun saya menafsirkan secara positif, bahwa istilah tersebut merupakan harapan seorang Kang Madun yang merasa rindu dengan sistem kaderisasi NU yang telah dilakukan Kyai Ali Maksum, sehingga ia menyebutnya aristokrat.

Tentu istilah ‘aristokrat’ tersebut harus dimaknai ulang, bukan makna praktis-politis sebagai sebuah terminologi dalam litelatur kenegaraan. Bila tidak, maka akan muncul kesan sekat-isasi yang cenderung membuat jarak antara KMNU dengan mahasiswa NU lain; membuat semacam kasta dalam tubuh mahasiswa NU. Tentu hal tersebut tidak kita inginkan. Kita sepakat, bahwa dalam NU harus selalu menjunjung persamaan dan kebersamaan.

Menurut saya, istilah ‘aristokrat’ yang dimaksud oleh Kang Madun dalam konteks ini adalah santri NU yang santun-terpelajar. Melalui istilah aristokrat tersebut, Kang Madun berharap dengan lahirnya KMNU adalah lahirnya generasi NU yang santun-terpelajar seperti yang telah dilahirkan Kyai Ali Maksum melalui sistem kaderisasinya.

Istilah ‘terpelajar’ menggambarkan bagaimana KMNU harus membangun kader-kader yang menunjukkan sikap yang konsekuen dengan keilmuannya dalam menghadapi realitas sosial, penuh tanggung jawab, dan tepat dalam menyelaraskan unsur idealita dengan unsur realita.
Artinya, harus berilmu. Kader KMNU harus berilmu !”

Namun, berilmu saja tidak cukup. Kader-kader KMNU juga harus bermanfaat bagi masyarakat dengan ilmu yang dimilikinya. Artinya, kader-kader KMNU harus memiliki kemampuan untuk menjawab persoalan empiris di tengah masyarakat.

“Banyak professor berilmu tinggi, tapi kurang bermanfaat bagi masyarakat karena tidak bisa bedakan bagaimana menghadapi mahasiswa dengan bagaimana menghadapi masyarakat,” jelasnya

Dengan karakter tersebut, diharapkan nantinya KMNU mampu menjadi barisan terdepan mahasiswa NU sehingga mampu mewarnai mahasiswa NU lain. Aristokrat sebagai kaum santri NU yang santun-terpelajar nantinya harus menjadi kerangka karakter kader-kader KMNU, baik saat di perguruan tinggi maupun saat terjun ke masyarakat: KMNU dalam menghadapi realita masyarakat cenderung berpikir dan bersikap ilmiah, dan santun dalam menyampaikan gagasan-gagasan tersebut !

“Salah satunya melalui tulisan, karena tulisan menunjukkan perlawanan kaum terpelajar.”

KMNU Harus Terbuka !

Di akhir perbincangan kami, Kang Madun memberi catatan kecil bagaimana hubungan KMNU dengan unsur struktur NU lainnya selama ini. Menurutnya, sejauh ini KMNU terkesan tertutup dengan unsur struktur NU lain. Ia menyadari, KMNU secara nasional memang baru terbentuk, sehingga KMNU mungkin masih fokus menata diri. Namun, ia tetap berpesan kepada KMNU untuk membaur dengan unsure struktur NU lainnya.
Ia mengibaratkan KMNU seperti penghuni kost baru yang masih malu-malu dengan penghuni kost lainnya.

“KMNU itu harus keluar dari kamar, berbaur dengan penghuni kost yang lain,” tuturnya

Pernyataan Kang Madun tersebut ada benarnya. Ia mengamati, dalam banyak acara NU DIY selama ini, KMNU hampir tidak pernah terundang. Oleh karenanya, ke depan ia ingin mengajak KMNU bersilaturahmi ke beberapa tokoh PWNU DIY. 

*Pelajar NU Gresik; asisten peneliti di Pusat Studi Hukum Lokal dan Prof Jawahir Thontowy, SH., Ph.D


Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII