Kalau sudah “KUN” pastilah “KAANA”


Pada lembar kertas ini,
Kisah perjalanan air mata yang mengalir melampaui nil
Menyusuri gelombang menenangkan sepi
Jauh sebelum petang menggaramkan siang
Sebelum sunyi,
Kunyalakan lagu sekedar meredam percakapan angin pada ilalang..
Lembar kisah yang telah habis
Aku lelah.. sangatlah lelah melihat panggung sandiwara ini, gumam seorang anak sekitar 3 tahun yang lalu. Gaya hidup diluar sana sangatlah keras hingga tak pernah terasa langkah terlalu jauh lari dari jangkauNya menjadi seorang sosok yang berlaga perlente di atas podium.. Lihatlah aku yang mempunyai kekuasaan, lihatlah aku yang mempunyai ilmu, lihatlah aku yang pantas untuk dipandang semua orang, lihatlah aku... lihatlah aku dengan segala kelebihanku...
Busana putih yang menutupi diri menjadikannya seorang yang lemah dan tak berdaya. Tersungkur berbisik pada bumi mengurai rintihan. Inikah diri yang akan dirindukan olehNya, Rasulullah dan kekasihNya? Inikah diri yang sudah pasti dinantikan di surga nanti? Hanya bisa diam dengan tanya yang tak pernah ada jawaban. Mengurai air mata dan menjatuhkannya pada asalnya (bumi) dimana awal dan akhir berada. Perjalanan demi perjalanan ditempuhnya, terhalang kerikil tajam bukanlah sebuah alasan senja keterpurukannya karena segumpal daging memaksanya harus tetap bangkit. Siapkan diri dengan cemoohan khalayak, tegarkan jiwa dengan perubahan panggung sandiwara ini. Hingga suatu hari perjalanannya tertuju pada satu tempat yang jauh dari bilik rumahnya. Ia masih asing dengan lingkungannya. Gerbang terbuka perlahan demi perlahan,disekitar tempat itu ia melihat beberapa aisyah memegang kitab suci Al Qur’an dan di kejauhan sana hadir sesosok aisyah, mendekatinya dan bertanya :
“mba nya mencari siapa?”
 “pak kyai nya ada mba?” tanyanya pelan
“maaf mba, bapak kyai baru saja tindak[1], ada keperluan apa mba mungkin nanti saya sampaikan” jawabnya santun
“ini mba saya mau nyantri disini, persyaratannya apa ya mba?”
“silakan masuk dulu mba, nanti saya jelaskan.. ” begitulah jawab seorang aisyah tersebut yang ternyata ketua komplek di pesantren tersebut.
Singkat cerita bermodal niat dan baju se-ala kadarnya dia putuskan untuk mondok di pesantren tersebut. Entah apa yang membuatku mantep untuk nyantri disana. Suasana sejuk dan seperti ada panggilan jiwa yang menariknya untuk tetapkan tholabul ‘ilmi disana. Inilah kehendak Tuhan selalu saja istimewa dalam memanusiakan manusia.
Hari demi hari masih sama seperti di dunia asing yang belum dikenal, padahal santri disana sangatlah santun. Pikirnya dia bukan siswa berseragam merah putih lagi yang apa-apa hanya menerima bukannya memberi. Berawal dari pemikiran yang hanya sekelumit menjadikannya harus bisa ta’dzim disini, bukan hidup bergantung pada orang lain melainkan menjadi pribadi sendiri dengan belajar pada orang lain. Tancapkan niat, bacalah diri lalu pahami apa yang akan diberikan. Itulah yang ia prinsipkan sekarang.
Hari-harinya dipenuhi dengan peraturan dan jadwal yang harus ia sesuaikan. Tidak jauh seperti dirumahnya yang banyak peraturan dan larangan sana sini. Yaa.. ini yang ia anggap sebagai bahan didikan. Hidup keras dalam keprihatinnya insya Allah menjadikannya ada ditengah-tengah orang-orang yang ia cintai. Kekuatannya ada pada apa yang ia pegang selama ini, dan pada apa yang ia bisikkan saat langitnya memanggil.
Pilihan tetaplah sebuah pilihan.. Di kejauhan sana sepasang bidadari menggantungkan harapan pada anak ingusan ini. Memang dia selalu memendam rindu, ziarah rindunya menasbihkan keakuan perasaan pada sepasang bidadari itu. Tanpa rekayasa!!
 Jika sudah “kun” pastilah “kaana”..
“Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran redaksi telah tersimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. Apa yang membuatku benar, maka tak akan membuatku salah. Sebaliknya, apa yang membuatku salah takkan membuatku benar. Keyakinan ini akan selalu bersemayam hingga diri ini menilai setiap bencana menjadi karunia, setiap ujian menjadi anugerah dan setiap peristiwa menjadi sebuah penghargaan” bisiknya pada bumi. (Widiaturrahmi-KMNU UII)

                                                                       


                                                                       

[1] Tindak : pergi (kata yang selalu digunakan di kalangan pesantren untuk pengasuh jika sedang bepergian)
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII