Alih Arti Mewujudkan Syukur dalam Kegembiraan di Kalangan Remaja Masa Kini

Meluasnya efek globalisasi dan akulturasi budaya  kini semakin terlihat dengan jelas oleh mata. Dampak yang dirasakan pun semakin hari semakin nyata, tak terkecuali dalam hal mewujudkan kegembiraan atas sesuatu yang didapatkan. Kegembiraan yang dalam Islam dijelaskan merupakan suatu nikmat yang mestinya disyukuri karena telah dikabulkan atau diberikan suatu keberhasilan oleh Allah SWT kini pun berubah dalam perwujudannya.
    Tanah air kita beberapa hari terakhir digemparkan dengan adanya berbagai pemberitaan tentang undangan pesta bikini summer dress bertema 'Splash after Class' bagi pelajar SMA di Bekasi dan Jakarta yang menyebar di YouTube dan jejaring sosial. Tak elak jika  undangan pesta yang bertujuan merayakan kelulusan UN ini menuai kecaman dari berbagai pihak karena sangat bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
    Menengok dari kasus tersebut, seakan-akan remaja kita dalam merayakan kegembiraannya jauh dari wujud syukur yang diajarkan oleh agama. Mereka jauh lebih memilih merayakan kegembiraannya ala bangsa barat yang mungkin dianggap lebih kekinian. Bagaimana tidak, dulu anak SMA di Indonesia yang lulus merayakan kegembiraannya dengan berbagi sesama, bakti sosial, sujud syukur bersama dan sejelek-jeleknya adalah coret-coret baju seragam sekolah mereka. Namun, kini beredar kabar mencengangkan tersebut yang sangat memprihatinkan karena menunjukkan betapa akulturasi budaya yang mereka terima sangatlah men-down grade moral mereka.
  Kita sebagai warga Negara yang sangat memperhatikan mulianya kebudayaan bangsa kita seakan-akan merasakan betapa pudarnya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kita tahu bahwa pemuda bangsa inilah yang nantinya akan menjadi generasi penerus dalam segala hal. Akan tetapi jika moral remaja kita saja kini seperti ini, akankah ada keyakinan bahwa kemajuan bangsa ini dapat dipikul oleh mereka nantinya? Tentu saja kebobrokan bangsa lah yang akan terjadi.
     Selanjutnya jika ada pertanyaan, siapakah yang bertanggungjawab atas kemerosotan moral remaja kita ini?. Mungkin dengan pertanyaan itu kita sadar bagaimanakah dan betapa pentingnya pendidikan moral siswa-siswi kita di sekolah agar kemerosotan moral tidak lebih jauh lagi. Selain itu seharusnya hal-hal yang demikian menjadi cambuk bagi pemerintah dan kalangan agama untuk segera memberi perhatian yang lebih tentang pendidikan moral yang berisikan nilai-nilai dan norma yang berlaku di Negara kita agar tidak terbawa arus globalisasi dan akulturasi budaya yang merugikan kita.

-Fajar.HM. (Teknik Kimia UII '13-KMNU UII)-
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII