Sikap Rasulullah Saw Terhadap Pemabuk




Rasulullah Saw telah memberikan contoh terbaik kepada umatnya tentang cara berdakwah. Telah melimpah teladan yang beliau berikan terkait dakwah untuk berbagai kalangan yang berbda. Mulai kaum papah yang tak berilmu, pemberontak hingga raja-raja yang berkuasa di negerinya kala itu.
Selayaknya, teladan-teladan inilah yang harus senantiasa dipelajari untuk dipraktikkan siapa saja yang memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Salah satu diantaranya, adalah sikap beliau ketika menghadapi seorang pemabuk. Sikap mulia ini amat layak untuk dipelajari dan sebisa mungkin diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Dikisahkan oleh Umar bin Khaththab, ada seorang Arab Badui yang bernama Abdullah. Karena kebengalan dan kebodohannya, orang-orang menjulukinya Si Keledai. Diantara kebiasaan buruknya adalah meminum khamr yang karenanya Rasulullah Saw memberikan hukum cambuk kepadanya. Meski demikian, Si Keledai ini memiliki perangai yang lucu sehingga disebutkan-dalam riwayat Umar ini-sebagai orang yang sering membuat Rasulullah Saw tertawa.
Suatu hari, lanjut riwayat Umar ini, Si Keledai kembali dihadapkan kepada Rasulullah Saw. Ia kembali mabuk. Karenanya, Rasul pun memerintahkan sahabatnya untuk memberikan hukum cambuk. Diantara salah satu yang hadir,sebagaimana disebutkan dalam hadits Imam Bukhari ini, ada orang yang berkata, “Ya Allah, laknatilah ia, alangkah seringnya ia ditangkap.”
Mendengar kalimat salah satu yang hadir itu, Nabi Saw menimpali, “Janganlah kalian melaknatinya,” lanjut beliau menasihati, “Demi Allah, setahuku ia mencintai Allah Swt dan Rasul-Nya,” demikian riwayat yang disebutkan dalam buku Inilah Rasulullah Saw tulisan Syeikh Salman al-Audah.
Melengkapi riwayat ini, ada riwayat lain dalam buku yang sama tentang bagaimana seharusnya seorang dai bersikap kepada pemabuk. Riwayat yang mulia ini disampaikan oleh sahabat Abu Hurairah.
Ketika itu, didatangkanlah kepada Rasulullah Saw seorang yang telah meminum khamr. Nabi Saw berkata kepada orang-orang yang berada di lokasi itu, “Pukullah dia.” Seketika itu orang-orang yang hadir melakukan perintah Nabi. Ada yang memukul pemabuk itu dengan tangannya, sandalnya, bahkan dengan bajunya. Pemabuk itu pun pergi. Dalam riwayat ini tak disebutkan nama maupun julukannya.
Saat pemabuk itu pergi, ada hadirin yang berkata, “Semoga Allah Swt menghinakanmu,” sebagaimana disebutkan dalam hadits Imam Ahmad dan Imam Bukhari ini. Mendengar kalimat laknat itu, Rasulullah Saw langsung menukasinya, “Jangan berkata demikian,” jelas beliau, “jangan membantu setan dalam menjerumuskannya,” tetapi, lanjut beliau memberi nasihat, “ucapkanlah: Semoga Allah Swt merahmatimu.”
Semoga Allah Swt memberikan kelembutan hati kepada siapapun yang telah mewakafkan dirinya di jalan dakwah. Kelembutan hati bukanlah kelemahan. Kelembutan hati adalah ketegasan.
Dalam dua riwayat ini disebutkan bahwa Nabi Saw memberikan hukuman fisik kepada pemabuk tersebut untuk memberikan efek jera. Sedangkan kalimat laknat sama sekali tak diizinkan karena Nabi Saw masih melihat potensi kebaikan dalam diri dua orang tersebut. Maknanya, kalimat laknat hanyalah memberikan dampak buruk kepada pelaku dan pelaknatnya. Sedangkan doa, pasti mendatangkan kebaikan; bagi yang mendoakan dan didoakan. [Pirman] 

kisahhikmah.com
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII