NEXT EVENT HADLRATUS SYAIKH KH.HASYIM ASY'ARI : Berhati-hati Menimba Ilmu Pengetahuan

Kuala Lumpur, KMNU UII Online
KMNU Malaysia, Rabu (18/02), memulai kembali kajian kitab karangan Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari di minggu pertama kepengurusan baru Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Malaysia periode 2015-2016. Rutinan pengajian kitab kuning Risalah Ahlissunnah wal Jama’ah karya Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada Rabu malam itu dimulai dari pukul 20:30 sampai 23:00 bertempat di Masjid Sultan Ahmad Shah, lantai IV, International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur. Acara yang dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa Indonesia di IIUM ini berjalan sangat khidmat. Hadir juga dua mahasiswa dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan satu mahasiswa asli Malaysia.
Muhamad Robi Ulfi Zt, selaku pembicara sekaligus Ketua KMNU IIUM periode 2015-2016, membuka pengajian perdana kali ini dengan mengajak untuk membaca Alquran bersama-sama dengan sistem hizb.

“Harapan, dengan dibacakannya Alquran di setiap pertemuan ini, pengajian rutinan kita bisa terus langgeng dan istiqomah sampai khatam”, tutur Robi, panggilan akrabnya. “Karena, dimanapun tempatnya terutama di rumah Allah seperti ini, disaat Alquran dibaca, disitulah rahmat Allah SWT turun dan para malaikat-Nya berbondong-bondong mendatangi tempat dibacakannya Alquran tersebut”, sambungnya.

Melanjutkan topik pembahasan sebelumnya, topik kajian fasal kelima ini mengangkat tema “Berhati-hati menimba Ilmu Agama serta Mewaspadai Fitnah Ahli Bid'ah, Munafiqin, dan Tokoh-tokoh yang Menyesatkan”. Point pertama menjelaskan tentang bagaimana kita memilih seorang guru dan tipe guru seperti apakah yang kita pilih dan panuti? Topik ini sangatlah penting untuk diketahui bersama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Sebab kesalahan memilah guru akan mengakibatkan kerusakan diri, kesesatan umat, hingga akhirnya terjerumus dalam kubangan api neraka secara sistematis, tanpa disadari. Terlebih, sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi di dunia maya, segala sesuatu dapat kita peroleh tanpa terlebih dulu mencermati sumbernya. Radikalisme, gerakan Islamphopia, kebobrokan moral, sampai kehancuran sebuah peradaban dapat lahir dari banyaknya guru dan informasi yang tidak tepat, malah sesat-menyesatkan, namun banyak diikuti serta dijadikan pedoman hidup.

“Saat ini, segala permasalahan dapat kita cari jawabannya hanya dengan bertanya ke “mbah” Google, namun jangan sampai kita menelan mentah-mentah jawaban yang kita dapat itu, kita harus juga mencermati dari siapa informasi tersebut”, tegas pak ketua.

Dalam kitabnya, Hadlratus Syaikh mengutip sebuah petuah Imam Malik ra (93-179 H/712-795 M): 

“Janganlah engkau “membawa” ilmu dari ahli bid’ah, dari orang yang tak diketahui latar belakang pendidikannya, dari orang yang sering bohong dalam mengisahkan manusia lain, meskipun ia tak pernah berbohong dalam (menyampaikan) hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Saw).”

Jadi, syarat memilih guru dengan standar Imam Malik ini sangat ketat. Ini menegaskan urgensitas peran seorang guru bagi masa depan ilmu dan kualitas murid-muridnya.

“Dalam pesan Imam Malik tersebut, terlihat bahwa ilmu apa saja mesti hati-hati ditransfer dari siapa dulu. Jangan asal comot, apalagi yang berkenaan dengan agama.” Jelas Robi asal Banten.

Khusus guru agama, KH. Hasyim kemudian menyampaikan wasiat Imam Ibn Sirin ra (33-110 H/653-729 M), yang sebagian hampir sama dengan nasihat Sahabat Ibn ‘Umar ra (10 SH-73 H/613-692 M) berupa hadits marfu’; “Ilmu ini agama, dan salat agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil ilmu ini, bagaimana kalian bisa melaksanakan salat ini. Sebab, sungguh kalian akan dipertanyakan di hari Kiamat. Jadi, jangan pernah sesekali meriwayatkan ilmu kecuali dari seseorang yang benar-benar telah terbukti keahliannya, bahwa ia termasuk dari golongan yang adil-bijaksana, terpercaya, dan teguh-meneguhkan.”              

Setelah jelas terkait standar guru yang mesti kita jadikan sumber pengetahuan, Hadlratus Syaikh melanjutkan pembahasan ke point kedua.  Menjelaskan tentang bahayanya fitnah yang timbul dari ahli bid’ah, orang-orang munafik, dan pemimpin sesat. Siapa itu ahli bid’ah? lalu apa karakter orang munafik dan pemimpin sesat yang dimaksudkan oleh penulis dalam tajuk fasal kelima ini?

Harus kita akui dalam fasal ini, mbahyai Hasyim tidak mendefinisikan tiga aktor utama tersebut. 

Namun, bila kita analisa dengen penuh perhatian dari kutipan-kutipan hadits yang beliau sampaikan, maka kita akan mengerti siapa dan bagaimana karakter ahli bid’ah, munafiq, dan tokoh-tokoh (al-`a`immah) yang menyesatkan tersebut.

Pertama-tama, mbahyai Hasyim memotret dua hadits shahih yang saling menafsirkan antar keduanya, riwayat Imam Muslim ra (204-261 H/820-875 M). Inti kedua hadits tersebut adalah rasa kekhawatiran Kanjeng Rasulullah, bahwa kelak di akhir zaman akan ada Dajjal-dajjal yang hobi berdusta, menebarkan hadits-hadits palsu yang bahkan tak pernah terdengar sebelumnya. Bila masa itu tiba, Nabi kita menyarankan agar kita selalu pintar menjaga diri kita dari mereka sekaligus menjauhi mereka dengan penuh kewaspadaan dari diri kita.

“Agar mereka tidak menyesatkan kalian dan tidak menjerumuskan kalian dalam kubangan fitnah.” Akhir petuah Nabi tersebut. Nah, dari dua hadits ini, ahli bid’ah yang termaktub dalam tajuk fasal diatas berarti para Dajjal itu. Lalu siapakah para Dajjal yang dikecam tersebut? Disini kita mesti merefer ke Syarah haditsnya. Menurut Imam Qadli ‘Iyyadl (476-544 H/1083-1149 M) salah satu ‘alim ternama pensyarah Shahih Muslim, mereka yang hobi berbohong itulah para Dajjal yang dimaksud.

“Jadi, siapakah ahli bid’ah itu? Yep, mereka yang hobi berbohong, sampai berani memalsukan hadits dan “memasarkan”-nya di tengah-tengah masyarakat Muslim, di akhir zaman; zaman sekarangkah itu? Mari bersama-sama kita amalkan hadits shahih agung diatas.” Tutor menyimpulkan.

Nah, ternyata tidak hanya menebarkan hadits-hadits palsu saja, bahkan kelak akan banyak syetan, yang dulunya dikerangkeng oleh Nabi Sulaiman as di kedalaman samudera, dikhawaatirkan muncul keluar ke permukaan, lalu senantiasa membacakan “Quran” kepada masyarakat, padahal sebenarnya itu bukan Alquran. Ini bukan sekedar ramalan, tapi benar-benar hadits Nabawi yang terekam dalam Shahih Muslim dari Sahabat ‘Amr bin Al-‘Ash (50 SH-43 H/574-664 M).

Tiga hadits shahih Muslim diatas telah cukup mewakili tentang bahayanya fitnah ahli bid’ah yang diwartakan Baginda Nabi akan terjadi di akhir zaman umatnya. Bagaimana dengan marabahaya kaum Munafiq dan tokoh-tokoh menyesatkan bagi umat Islam akhir zaman?

KH. Hasyim Asy’ari dalam akhir paragraph fasal kelima ini banyak mengutip hadits dari kitab Mu’jam Imam Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrany (260-360 H/873-971 M), ‘alim hadits ternama asal Syam/Syiria yang telah berkelana ke negeri Hijaz, Yaman, Mesir, Iraq, Persia, Aljazirah, hingga wafat di Ashbahani. Dari kitab beliau, Sahabat Abi Ad-Darda` (w. 32 H/652 M) yang memiliki nama asli ‘Uwaimir bin Malik Al-Khazrajy menyatakan sebuah hadtis kekhawatiran Baginda Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya hal yang sangat paling aku takutkan atas umatku adalah para imam yang menyesatkan.”

Tentu makna imam disini tidak selalu dipahami sebagai sosok yang dikenal luas oleh masyarakat banyak, sosok tokoh yang terkenal tapi menyesatkan sudah pasti masuk dalam hadits ini. Makna imam disini lebih luas lagi, termasuk di dalam hadits ini adalah para imam (kepala) keluarga, tokoh sebuah gerakan-organisasi, dan sebagainya.

“Apa doanya orang “kebelet” nikah agar diberkahi istri-keturunan yang bisa menjadi pelipur hati itu?” Tanya pensyarah kepada para hadirin yang ada.

{رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا} [الفرقان: 74]

para audiensi langsung menjawab dengan lancar dan spontan, sambil “nyengir”.

“Nah, disini ahli Tafsir mengartikan imam dalam ayat tersebut adalah panutan yang diikuti dalam kebaikan. Tapi, sebab dalam hadits tadi disifati “yang menyesatkan”, maka konotasinya imam yang jadi panutan, tapi menyesatkan. Levelnya mutlak! Entah jadi panutan sebagai imam keluarga, masjid besar-kecil, organisasi, atau yang lain.” Jelas kang Robi semakin tajam.  

Lalu, yang tak kalah bahayanya adalah perangai dan dampak orang munafiq. Mbahyai Hasyim mengutip riwayat Imam Ahmad ibn Hanbal ra (164-241 H/780-855 M) bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, “Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas umatku ialah setiap munafiq yang sangat lihai berlisan.” Ditambah lagi, riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib (23 SH-40 H/600-661 M) karramahullah wajhah, Sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan dari umatku seorang mukmin dan tidak juga seorang musyrik. Sebab, jika ia mukmin, keimanannya akan melindunginya; dan bila ia musyrik, maka kekufurannya akan membinasakannya. Akan tetapi, aku senantiasa mengkhawatirkan atas kalian seorang munafiq yang begitu pandai berlisan, ia selalu berkata apa yang kalian tahu (sebagai kebaikan) sedang ia selalu mengamalikan apa yang kalian selalu ingkari.”
Syekh Al-Munawi ra (952-1031 H/1545-1622 M) menafsiri frase ‘alimul lisan (lihai berlisan) dengan lima ciri-ciri: a) banyak ilmu lisannya, tapi bodoh hati dan amal, b) mengkomersialkan ilmu sebagai ladang bisnis/profesi, dimana ia bisa makan dari modal ilmu itu, c) menjadikan ilmu sebagai kebanggaan yang selalu ia elu-elukan, d) ia terus mengajak masyarakat menuju Allah Swt, padahal ia sendiri selalu lari dari-Nya.

Sebagai penutup fasal kelima, Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari mengisahkan percakapan antara seorang murid, Ziyad bin Hudair ra  dengan mahagurunya, Sahabat Umar bin Al-Khatthab ra (40 SH-23 H/584-644 M). Sang murid berkisah bahwa ia pernah ditanya sang guru, “Tahukah engkau, apa yang bisa merobohkan Islam?” Aku menjawab, “Tidak tahu.” Lalu, sang khalifah pun menjawab, “Islam bisa dirobohkan oleh “tergelincir”-nya seorang ‘alim, perdebatan seorang munafiq dengan Al-Kitab (Al-Quran),  dan keputusan hukum/kebijaksanaannya para imam (pemimpin) yang menyesatkan.”  

Seusai menerangkan kandungan kitab, sebelum kajian ditutup, dibuka sesi tanya-jawab. Tidak hanya pertanyaan dan jawaban, melainkan komentar dan sanggahan juga muncul dari para hadirin. Salah satu pembimbing KMNU IIUM, Rusmin Abdurrauf, Lc meluruskan bahwa ilmu Sihr itu tergolong ilmu yang tercela, menurut Imam Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) dalam kitab Ihya`-nya. Sambil menikmati jajanan ringan yang dibagikan oleh panitia, para hadirin terlihat tetap fokus dan antusias menelaah kajian perdana di malam itu. Ditambah, turunnya hujan deras saat acara hampir usai menghanyutkan para hadirin dalam suasana penuh keharmonisan dan kekeluargaan.

[Reportase Pengajian Rutin Risalah Ahlissunnah Wal Jama’ah*)]
*) Direportase oleh Alfin Mubarack, Koordinator Departemen Publikasi dan Dokumentasi KMNU IIUM 2015-2016.
Share on Google Plus

About Redaktur KMNU UII

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar untuk postingan KMNU UII